Masih ingat dengan tulisan “George W Bush Sudah Lahir di Tahun 1796″? Yang dimuat di rubrik ini pada 1 Juni 2007? Kala itu tertulis bahwa di tahun 1796 atau 20 tahun setelah The Founding Fathers Amerika Serikat menandatangani Deklarasi Kemerdekaan AS, moyang dari Presiden AS George Walker Bush dilahirkan. Dia bernama George Washington Bush. Sama-sama George W Bush.
Michael Collins Piper, seorang kolumnis independen Amerika dan termasuk salah satu pengecam gerakan Zionisme, di dalam karyanya “Jerusalem Baru: Kuasa Zionis di Amerika” (edisi Malaysia diterbitkan Saba Islamic Media), mengutip penemuan Shalom Goldman, seorang Profesor Madya dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah University Emory, yang mengatakan bahwa George Washington Bush merupakan moyang dari George Walker Bush.
“George Washington Bush yang dilahirkan pada 12 Juni 1796 dan meninggal dunia ada 19 September 1859 merupakan seorang profesor dan penulis buku ‘The Life of Muhammad’, sebuah pertama terbitan Amerika yang menyerang Islam, ” demikian Goldman.
Goldman yang juga berdarah Yahudi ini juga menegaskan bahwa Profesor Bush merupakan pelopor atau perintis lahirnya kelompok Zionis-Kristen Amerika yang sekarang menguasai Gedung Putih dan Pentagon. “Profesor Bush sangat akif mendukung Zionisme di Amerika dan berperan penting di dalam mengirimkan orang-orang Yahudi Diaspora ke Tanah Palestina, ” lanjutnya.
Wikipedia menulis, “Selain sebagai akademisi dan penulis, Profesor Bush juga seorang sarjana Alkitab, penginjil, dan seorang kontroversial. Dia lulus dari Dartmouth College di tahun 1818 dan masuk Princeton Theological Seminary. Bush ditahbiskan di Salem Presbytery, Indiana, tahun 1825 dan menjadi pendeta di sebuah gereja Indianapolis, sebah gereja yang dipandang sangat liberal pada masanya. ” Dari tahun 1831 hingga 1847, Bush menjadi Professor dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah di New York University.
Di tahun 1845 Bush memperlihatkan dukungannya secara terang-terangan terhadap lobi Zionis di Amerika dengan berpindah gereja dan masuk ke dalam General Church of the New Jerusalem. Bush dengan cepat meraih popularitas dan dijadikan juru bicara gereja tersebut, termasuk di dalam majalah yang diterbitkan oleh gereja (New Church Review) dan The Hierophant, sebuah majalah yang sangat dokriner. Inilah sosok salah satu moyang dari Presiden Amerika George Walker Bush. Jadi, tidaklah mengherankan jika sikap dan kelakuan Presiden AS ini sangat pro-Zionisme dan sangat anti-Islam, karena moyangnya pun nsudah demikian.
Itulah sekilas tentang moyang Dinasti Bush. Namun ternyata ada penemuan lain sekitar asal-muasal Dinasti Bush yang tak kalah penting untuk diketahui.
Texe Marrs
Texe Marrs, seorang peneliti masalah-masalah Illuminati dan Zionis berkewarganegaraan Amerika Serikat, dengan susah payah berusaha menelusuri jejak sejarah Dinasti Bush selama bertahun-tahun. Dalam penelusurannya, Marrz menemui banyak sekali data yang mengagetkan terkait salah satu dinasti berpengaruh di Amerika ini. Salah satunya seperti yang dituangkan dalam satu artikel berjudul “George W. Bush, Zionis Double Agent, American Traitor” (George W. Bush, Agen Ganda Zionis, Pengkhianat Amerika).
Dalam artikel yang halamannya ditulisi sebagai “Exclusive Intelligence Examiner Report”, di awal artikelnya, Marrz mencantumkan dua kutipan: satu dari Hillaire Belloc dalam bukunya Cultural Warrs (Sept 2000) yang menyatakan, “Seseorang sudah bisa dicap anti-Semit jika mengatakan bahwa orang Yahudi itu adalah Yahudi” dan satunya lagi dari Injil Yohannes 20:19 yang berbunyi, “Then… When the doors were shut where the disciples were assembled for fear of the Jews, came Jesus and stood in the midst, and saith unto them, Peace be unto you. ”
Dalam artikelnya, Marrs yang beragama Kristen ini menulis bahwa mantan Presiden AS George Herbert Bush dan juga puteranya, George Walker Bush, demikian pula Jebb Bush, adik kandung George Bush Junior yang menjadi Gubernur Florida, merupakan para pelayan dan pembantu kepentingan Zionisme. Marrs awalnya ingin mengetahui akar kekristenan Dinasti Bush, namun yang didapat sungguh mengejutkannya.
Marrs mendapatkan sebuah dokumen yang dikeluarkan National Jewish Welfare Board, saat berlangsungnya perang revolusi Amerika Serikat melawan kolonialis Inggris, mencatat bahwa seluruh anggota Dinasti Bush ternyata berdarah Yahudi dan sengan sendirinya memeluk agama Yahudi. Mereka tercatat sebagai tentara dan juga pelaut Yahudi-Amerika. Ada yang bernama Mayor George Bush, Mayor Louis Bush, dan Mayor Solomon Bush. Nama-nama itu muncul di dokumen tersebut secara jelas. Dengan temuan ini, Marrs sangat yakin bahwa Dinasti Bush adalah sebuah dinasti Yahudi yang berpura-pura komit dengan kekristenannya guna mengelabui warga Amerika dan dunia pada umumnya.
Hubungan antara Dinasti Bush dengan pusaran elit Zionis Amerika juga sangat dekat, sehingga Marrs tanpa ragu menyatakan bahwa Dinasti Bush merupakan sebuah kelompok elit dalam lingkaran pusat kelompok Illuminati Amerika. “Berkedok sebagai penganut Kristen fundamentalis, Bush sebenarnya bekerja sepenuhnya untuk kepentingan Zionis-Yahudi, ” tegas Marrs yang telah melakukan penelitian soal keluarga Bush selama enam tahun.
Buku ‘Rahasia di Balik Penggalian Al-Aqsha’ (Abu Aiman, 2007) yang juga mengutip artikel dari Texe Marrs menulis, “Sewaktu terpilih sebagai Presiden AS, George W Bush langsung melantik staf pertamanya untuk Gedung Putih, Ari Fleischer. Dia adalah seorang Rabbi dari sekte radikal Yahudi Lubavitch. Kemudian Bush juga mempertahankan posisi Allan Grenspan, seorang bankir Yahudi, sebagai Komisaris Federal Reserve, dan juga mengangkat seorang Rabbi Yahudi, Dov Zackheim, sebagai pengawas keuangan Pentagon!”
Lalu, Bush juga mengangkat Michael Chertoff sebagai ketua Dalam Negeri (Homeland Security). Padahal ia adalah ideolog Yahudi dan sangat benci kepada Kristen. Ayah Chertoff adalah seorang Rabbi dan tokoh radikal Yahudi di AS. Marrs bahkan menyamakan Chertoff sebagai Himmler-nya Amerika (Himmler merupakan ajudan Hitler yang sangat kejam).
“Saya tegaskan, saya telah meneliti latar belakang Dinasti Bush, termasuk dari faksi Rothschild, tanpa keraguan sedikit pun saya tegaskan kepada Anda bahwa Dinasti Bush dan George Walker Bush memang benar adalah Yahudi tulen. Seorang Yahudi berdasarkan keturunan, seorang Yahudi berdasarkan keyakinan. Hanya saja, mereka menyembunyikan itu dari publik dan memakai kedok sebagai keluarga Kristen yang taat. ”
(Rizki Ridyasmara/eramuslim)
Read More..
Rabu, Juli 08, 2009
YAHUDI DAN IBLIS
Iblis selalu berusaha menyesatkan manusia, dan Yahudi adalah ras yang paling mudah disesatkan karena sikap superioritas mereka atas segala ras. Di sepanjang Perjanjian Lama, Tuhan menjelaskan bahwa Dia telah mengirim begitu banyak utusan. Tapi dasar Yahudi, mereka memang orang-orang yang cenderung kepada dunia. Mereka selalu menyembah ilah-ilah palsu. Bahkan di zaman Musa, mereka membuat patung untuk menandingi Ilah yang benar.
Yahudi begitu tertarik dengan ajaran-ajaran Tripartite. Mereka begitu tertarik dengan apa yang Iblis ajarkan kepada bangsa-bangsa lain seperti Sumeria, Mesir, dan yang lainnya. Jangan fikir bahwa Yahudi hanya menyembah Yahweh. Yahudi telah menyekutukan Tuhan yang esa dengan meyakini ketuhanan Horus, Osiris, dan Isis. Mereka juga tertarik dengan kebudayaan Yunani-Roma yang juga menyembah Tuhan Tripartite. Mereka selalu tertarik dengan ajaran-ajaran Tripartite. Tetapi belum ada informasi yang akurat, apakah mereka yang menciptakan ajaran Tripartite berdasarkan bimbingan Iblis, atau mereka hanya meniru ajaran-ajaran Tripartite yang sudah ada di sekeliling mereka, yang tentunya juga merupakan hasil kerja Iblis. Kemana Yahudi singgah, di situ selalu ada ajaran Tripartite. Bisa jadi, orang Yahudi juga yang menyelewengkan ajaran orang-orang India menjadi ajaran Tripartite. Lagi tentang Yahudi, mereka begitu benci kepada Tuhan, entah kenapa, mungkin karena mereka merasa bahwa mereka orang-orang yang cerdas yang bisa mengalahkan Tuhan?
Tetapi walau pun mereka benci kepada Tuhan, mereka meyakini akan keberadaan Tuhan yang esa, sebagaimana Iblis yang suka berbuat durhaka namun dia tahu bahwa Allah yang esa itu ada. Ketika mereka mendapatkan berita dari langit melalui para nabi utusan Tuhan, mereka akan menjaga yang asli supaya dapat mengetahui masa depan dunia, namun demikian, mereka terus berusaha mengubah ayat-ayat Tuhan.
AMERIKA DAN YAHUDI
Yahudi tahu bahwa Tuhan tidak menjanjikan bahwa Messiah itu dari keturunan Ishak, itulah yang membuat mereka kesal. Dan sebagaimana Iblis yang marah, mereka juga berusaha untuk menyesatkan seluruh umat manusia dan mengajak mereka agar menyembah tuhan yang mereka buat-buat. Tujuan akhirnya, mereka ingin menguasai dunia dan membentuk Tatanan Dunia Baru (New World Order / Novus Ordo Seclorum). Ya, kata-kata ini ada pada uang satu dollar Amerika. Amerika adalah negara yang dibangun oleh Yahudi. Yahudi itu bagaikan serigala yang berbulu domba. Mereka mengaku sebagai Kristian atau pun pemeluk agama lain, tujuannya untuk menyesatkan manusia dari dalam kelompok. Bukti lain bahwa Amerika ini dibangun oleh Yahudi adalah pada lambang negara Amerika ada 13 bintang yang membentuk hexagram bintang David kebanggaan kaum Yahudi.
Bush senior itu anggota Free Mason tingkat 33, Bush junior juga merupakan anggota Free Mason. Bahkan George Washington adalah seorang Free Mason. Para anggota Boedi Oetomo pun adalah para Free Mason. Dan banyak petinggi Gereja di di seluruh dunia adalah Free Mason.
Sumber
Read More..
Yahudi begitu tertarik dengan ajaran-ajaran Tripartite. Mereka begitu tertarik dengan apa yang Iblis ajarkan kepada bangsa-bangsa lain seperti Sumeria, Mesir, dan yang lainnya. Jangan fikir bahwa Yahudi hanya menyembah Yahweh. Yahudi telah menyekutukan Tuhan yang esa dengan meyakini ketuhanan Horus, Osiris, dan Isis. Mereka juga tertarik dengan kebudayaan Yunani-Roma yang juga menyembah Tuhan Tripartite. Mereka selalu tertarik dengan ajaran-ajaran Tripartite. Tetapi belum ada informasi yang akurat, apakah mereka yang menciptakan ajaran Tripartite berdasarkan bimbingan Iblis, atau mereka hanya meniru ajaran-ajaran Tripartite yang sudah ada di sekeliling mereka, yang tentunya juga merupakan hasil kerja Iblis. Kemana Yahudi singgah, di situ selalu ada ajaran Tripartite. Bisa jadi, orang Yahudi juga yang menyelewengkan ajaran orang-orang India menjadi ajaran Tripartite. Lagi tentang Yahudi, mereka begitu benci kepada Tuhan, entah kenapa, mungkin karena mereka merasa bahwa mereka orang-orang yang cerdas yang bisa mengalahkan Tuhan?
Tetapi walau pun mereka benci kepada Tuhan, mereka meyakini akan keberadaan Tuhan yang esa, sebagaimana Iblis yang suka berbuat durhaka namun dia tahu bahwa Allah yang esa itu ada. Ketika mereka mendapatkan berita dari langit melalui para nabi utusan Tuhan, mereka akan menjaga yang asli supaya dapat mengetahui masa depan dunia, namun demikian, mereka terus berusaha mengubah ayat-ayat Tuhan.
AMERIKA DAN YAHUDI
Yahudi tahu bahwa Tuhan tidak menjanjikan bahwa Messiah itu dari keturunan Ishak, itulah yang membuat mereka kesal. Dan sebagaimana Iblis yang marah, mereka juga berusaha untuk menyesatkan seluruh umat manusia dan mengajak mereka agar menyembah tuhan yang mereka buat-buat. Tujuan akhirnya, mereka ingin menguasai dunia dan membentuk Tatanan Dunia Baru (New World Order / Novus Ordo Seclorum). Ya, kata-kata ini ada pada uang satu dollar Amerika. Amerika adalah negara yang dibangun oleh Yahudi. Yahudi itu bagaikan serigala yang berbulu domba. Mereka mengaku sebagai Kristian atau pun pemeluk agama lain, tujuannya untuk menyesatkan manusia dari dalam kelompok. Bukti lain bahwa Amerika ini dibangun oleh Yahudi adalah pada lambang negara Amerika ada 13 bintang yang membentuk hexagram bintang David kebanggaan kaum Yahudi.
Bush senior itu anggota Free Mason tingkat 33, Bush junior juga merupakan anggota Free Mason. Bahkan George Washington adalah seorang Free Mason. Para anggota Boedi Oetomo pun adalah para Free Mason. Dan banyak petinggi Gereja di di seluruh dunia adalah Free Mason.
Sumber
Read More..
Muslim Indonesia dan Asia, Target Utama Misi Pemurtadan
Kepada seluruh muslim..simak tulisan berikut ini dengan seksama. Jangan pindahkan bacaan Anda sebelum menyelesaikannya. Semoga kita termasuk orang yang memiliki keinginan untuk memahami konspirasi musuh ISLAM dan meneriakkan kata " HANCURKAN MUSUH ISLAM "
Kelompok misionaris Mission Network News (MNN) akan melakukan misi Kristenisasi ke sejumlah negara Asia dengan membuat sejumlah acara radio. Sasaran dari acara tersebut adalah umat Islam di Asia karena program radio yang mereka buat bertema kasih sayang dan penghormatan Muslim terhadap Yesus Kristus.
MNN menjalin kerjasama dengan Far East Broadcasting Company (FEBC dalam melakukan kegiatan misionaris ini. Menurut Gregg Harris, president FEBC, pihaknya sudah bertahun-tahun melakukan kegiatan siaran di negara-negara Muslim dan kami melihat umat Islam senang dan tertarik untuk mendengarkan acara-acara tentang kasih sayang Tuhan.
FEBC adalah lembaga penyiaran yang menayangkan program-program kekristenan dengan menggunakan lebih dari 150 bahasa. Didirikanpada tahun 1945 oleh para tentara veteran Perang Dunia II dengan tujuan menyebarkan ajaran Kristen ke wilayah Asia. Lembaga penyiaran ini sudah merancang jangka panjang untuk membuat program siaran yang bisa menjangkau umat Islam di seluruh dunia.
Program misionaris yang akan diluncurkan FEBC dan MNN kali ini mereka sebut sebagai “Proyek Isa” yang akan diluncurkan di Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Tiga negara yang jumlah Muslimnya meliputi hampir setengah jumlah Muslim di dunia. Di Indonesia sendiri, FEBC sudah menyelesaikan proyek pertamanya.
Proyek ini diberi nama “Proyek Isa” setelah melakukan berbagai riset. Mereka memutuskan menggunakan nama Nabi Isa untuk proyek kristenisasinya karena Nama Nabi Isa ada dalam al-Quran dan nama Nabi Isa lebih akrab di telinga umat Islam sehingga diharapkan akan lebih mudah bagi proyek ini untuk menyebarkan gospel di kalangan umat Islam.
Selain ketiga negara itu, Muslim Kazakhstan juga menjadi target misionaris mereka. “Banyak orang meyakini bahwa Kazakhstan akan menjadi negara yang akan memiliki pengaruh besar dalam iklim keagamaan di Asia Tengah,” kata Harris.
“Kami mengajak umat Tuhan untuk berdoa dan kami berdoa agar Tuhan memberikan perlindungan bagi upaya kami untuk membawa cinta kasih Yesus ke dunia Islam,” sambung Harris.
Umat Islam, khususnya di Indonesia selayaknya mewaspadai kegiatan misionari dan kristenisasi yang makin gencar dilakukan oleh kelompok-kelompok gereja evangelis dan pantekosta. Apalagi kegiatan ini sudah menjadi salah satu program penting gereja. Para pimpinan Churh of England dalam pertemuan hari Rabu kemarin di London menyatakan memberikan dukungan penuh pada kegiatan misionaris bahkan meminta semua keuskupan untuk melakukan “evangelisasi” ke seluruh dunia.
“Yang harus ditanamkan dalam pikiran kita, bahwa setiap orang berpotensi untuk pindah agama,” kata Uskup Nezlin Sterling.
Selain Churh of England, European Evangelical Alliance (EEA) lewat sekretaris jenderalnya Gordon Showell-Rogers bulan Oktober kemarin menyerukan “kristenisasi pada seluruh Muslim di Eropa.“
Mari kita rapatkan barisan, jangan berpecah, dan kita terus berjuang melawan semua konspirasi-konspirasi mereka dengan memperdalam ilmu dan menguatkan semangat JIHAD!!!
Read More..
Kelompok misionaris Mission Network News (MNN) akan melakukan misi Kristenisasi ke sejumlah negara Asia dengan membuat sejumlah acara radio. Sasaran dari acara tersebut adalah umat Islam di Asia karena program radio yang mereka buat bertema kasih sayang dan penghormatan Muslim terhadap Yesus Kristus.
MNN menjalin kerjasama dengan Far East Broadcasting Company (FEBC dalam melakukan kegiatan misionaris ini. Menurut Gregg Harris, president FEBC, pihaknya sudah bertahun-tahun melakukan kegiatan siaran di negara-negara Muslim dan kami melihat umat Islam senang dan tertarik untuk mendengarkan acara-acara tentang kasih sayang Tuhan.
FEBC adalah lembaga penyiaran yang menayangkan program-program kekristenan dengan menggunakan lebih dari 150 bahasa. Didirikanpada tahun 1945 oleh para tentara veteran Perang Dunia II dengan tujuan menyebarkan ajaran Kristen ke wilayah Asia. Lembaga penyiaran ini sudah merancang jangka panjang untuk membuat program siaran yang bisa menjangkau umat Islam di seluruh dunia.
Program misionaris yang akan diluncurkan FEBC dan MNN kali ini mereka sebut sebagai “Proyek Isa” yang akan diluncurkan di Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Tiga negara yang jumlah Muslimnya meliputi hampir setengah jumlah Muslim di dunia. Di Indonesia sendiri, FEBC sudah menyelesaikan proyek pertamanya.
Proyek ini diberi nama “Proyek Isa” setelah melakukan berbagai riset. Mereka memutuskan menggunakan nama Nabi Isa untuk proyek kristenisasinya karena Nama Nabi Isa ada dalam al-Quran dan nama Nabi Isa lebih akrab di telinga umat Islam sehingga diharapkan akan lebih mudah bagi proyek ini untuk menyebarkan gospel di kalangan umat Islam.
Selain ketiga negara itu, Muslim Kazakhstan juga menjadi target misionaris mereka. “Banyak orang meyakini bahwa Kazakhstan akan menjadi negara yang akan memiliki pengaruh besar dalam iklim keagamaan di Asia Tengah,” kata Harris.
“Kami mengajak umat Tuhan untuk berdoa dan kami berdoa agar Tuhan memberikan perlindungan bagi upaya kami untuk membawa cinta kasih Yesus ke dunia Islam,” sambung Harris.
Umat Islam, khususnya di Indonesia selayaknya mewaspadai kegiatan misionari dan kristenisasi yang makin gencar dilakukan oleh kelompok-kelompok gereja evangelis dan pantekosta. Apalagi kegiatan ini sudah menjadi salah satu program penting gereja. Para pimpinan Churh of England dalam pertemuan hari Rabu kemarin di London menyatakan memberikan dukungan penuh pada kegiatan misionaris bahkan meminta semua keuskupan untuk melakukan “evangelisasi” ke seluruh dunia.
“Yang harus ditanamkan dalam pikiran kita, bahwa setiap orang berpotensi untuk pindah agama,” kata Uskup Nezlin Sterling.
Selain Churh of England, European Evangelical Alliance (EEA) lewat sekretaris jenderalnya Gordon Showell-Rogers bulan Oktober kemarin menyerukan “kristenisasi pada seluruh Muslim di Eropa.“
Mari kita rapatkan barisan, jangan berpecah, dan kita terus berjuang melawan semua konspirasi-konspirasi mereka dengan memperdalam ilmu dan menguatkan semangat JIHAD!!!
Read More..
Konspirasi Kristen dengan Yahudi Menghancurkan Islam
Berkali-kali mereka bersekongkol, hingga kini. Makin canggih dan licik.
"Mengapa Islam kerap menghadapi banyak cobaan dan serangan dari musuh yang tiada henti-hentinya? Tapi mengapa pula Islam selalu terjaga dari segala cobaan dibanding agama lain yang banyak berakhir dengan menyedihkan?"
Mungkin jawaban kita bisa beragam. Ulama besar Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, menyimpulkan dua hal penting; Pertama, Islam memiliki kekuatan yang dinamis dan serasi dengan situasi zaman sehingga mampu memberikan alternatif terhadap segala persoalan. Kedua, karena Allah swt telah menjamin dan akan menjaga Islam dengan cara melahirkan kader dakwah yang tangguh. Karenanya, seberat apapun serangan yang ditujukan kepada Islam, ummat ini tidak akan pernah mengalami kekosongan mujadid (pejuang agama).
Benar, sejak kehadirannya 1400 tahun lalu, agama ini telah mengalami serangkaian cobaan berat. Sejak awal, Islam selalu menghadapi serangan-serangan dari segala penjuru di mana agama lain tidak pernah menghadapinya. Menurut istilah Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, andaikata bukan Islam, belum tentu agama lain sanggup menghadapinya. Serangan dengan bentuk kekerasan fisik, kudeta, revolusi, sampai dengan bentuk upaya pencampuran ideologi oleh para konspirator untuk merusak Islam telah banyak dicobakan. Bahkan terus berlangsung hingga hari ini.
Tahun 1917, dengan sangat tidak elegan kaum milisi Kristen bersekongkol dengan negara Barat dan Eropa mengeroyok Islam secara beramai-ramai untuk merebut kota Baitul Maqdis. Persekongkolan itu merupakan usaha yang kesekian kali, setelah selama kurang lebih 90 tahun selalu dipatahkan tentara Islam. Tidaklah heran, saat Baitul Maqdis jatuh atas konspirasi jahat, dengan bangganya Jenderal Gouron, seorang pemimpin panglima pasukan Perancis berteriak sambil menginjak-injak pusara pahlawan Islam dalam perang Salib, Salahuddin Al-Ayyubi. "Kami telah kembali, wahai Saladin", ucapnya. "Dan sejak saat ini, Perang Salib (crusade) sudah selesai," tambah Lord Allenby, komandan gabungan milisi pasukan sekutu Inggris, Perancis, Italia, Rumania dan Amerika. Itulah kekalahan Islam di Yerusalem atas konspirasi jahat kaum Kristen, bangsa Barat dan Eropa. Semenjak itu, Palestina dan Baitul Maqdis selalu menjadi obyek keserakahan sebagian negara Barat, Eropa dan Yahudi.
Pernyataan Lord Allenby yang banyak menjadi headline koran-koran Inggris ketika itu memang telah menandai berakhirnya istilah Perang Salib (crusade).
Tapi dalam kenyataannya, semangat Perang Salib terus menandai Kristen, bangsa Barat dan Eropa untuk melakukan penjajahan atas negeri-negeri lain di dunia ketiga. Utamanya negeri-negeri yang jelas mayoritas penduduknya Muslim. Seperti yang telah banyak ditorehkan dalam tinta sejarah, bagaimana missi Kristen masuk ke Nusantara pada abad 15-16 bersamaan dengan misi penjajah Eropa (Portugis) ke dunia Timur. Dengan jelas, missi penjajah itu selain melakukan ekspansi wilayah juga mengembangkan agama Kristen. Semboyannya yang terkenal yaitu "Tiga-G": gold, glory, gospel (emas, kejayaan, missi Kristen).
Sejarawan Dr Aqib Suminto dalam bukunya, "Politik Islam Hindia Belanda" menulis bahwa agama Kristen mulai diperkenalkan oleh para pelaut Portugis yang datang ke dunia Timur pada abad ke-16, sambil membawa semangat Perang Timur. Ekpansi itu dimulai oleh perserikatan dagang Belanda yang diberi nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk mencari rempah-rempah. Sambil berdagang, VOC tidak melupakan misi penyebaran agama Kristen dalam setiap ekspedisinya. Setelah berhasil mengatasi Katolik, pemerintah Belanda memusatkan perhatian menghadapi kelompok pribumi yang beragama Islam. Sebab, menurut Aqib Suminto, bagi Belanda penghalang utama kekuasaan kolonialnya adalah agama Islam dan pemeluknya. "Pidato tahunan raja bulan September 1901 —yang menggambarkan jiwa Kristen— menyatakan mempunyai kewajiban etis dan tanggungjawab moral kepada rakyat Hindia Belanda, yakni memberikan bantuan lebih banyak kepada penyebaran agama Kristen," tulis Aqib.
Adalah ucapan yang menarik dari D'albuquerqe saat menduduki Malaka, "Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor (sebutan untuk orang Muslim) dari negara ini dan memadamkan api sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini". Ucapan ini mirip dengan pidato petinggi militer Spanyol, Figueroa di depan pasukannya saat menjajah wilayah Muslim Mindanao, "Kita berdiri di atas tanah bangsa Spanyol yang baru. Menaklukkan hutan yang gelap ini dan menguasai tanah kafir-Muslim adalah misi kita. Mereka menyerah sebagai budak dan murtad atau jatuh di bawah pedang bangsa Spanyol. Majulah untuk misi kita demi Raja dan Negara." Missi Kristen, meski tidak menjadi prioritas utama —seperti halnya masa lalu— sering berjalan seiring dengan semangat penjajahan (kolonialisme).
Gereja, Barat, dan bangsa Eropa tahu betul, hanya dengan mengganti agama Islam dengan agama lain, missi penjajahan bisa terlaksana di negeri-negeri Islam. Sebab Islam tak ubahnya sebuah keyakinan yang hanya melahirkan orang-orang kuat dengan kepatuhan agama.
Tidaklah berlebihan bila mantan Perdana Menteri Inggris, yang sangat berkuasa di tahun 1882, Gladstone. Sambil membawa kopian al-Qur'an, penganut gereja Anglikan ini bicara di depan ratusan anggota Parlemen Inggris kala itu. "Percuma memerangi ummat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam masih bertengger al-Qur'an. Tugas kita adalah mencabut al-Qur'an di hati mereka. Dan kita akan menang menguasai mereka," ucapnya.
Ucapan Gladstone itu kemudian menjadi rekomendasi penting Kerajaan Inggris tentang bagaimana kiat menundukkan negeri-negeri Islam di wilayah jajahannya, termasuk terhadap Mesir.
Menuju Perang Peradaban
Interaksinya selama berabad-abad dengan peradaban Islam, penjajah tahu betul betapa Islam adalah agama yang memiliki peradaban modern. Ideologinya tidak hanya mampu mengungguli kekuatan militer Barat, namun juga mengungguli peradaban dan intelektualitas mereka sekaligus. Karena itu, ancaman peradaban Islam seperti ucapan jujur Prof Dr Huntington dalam The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996) adalah suatu yang rasional. Atas pengalaman berharga itu, penjajah kemudian mengganti strateginya. Strategi baru pasca Perang Salib itu adalah melalui jalan perang peradaban dan pemikiran (ghazwul fikri). Penjajahan berwajah baru ini tak kalah liciknya dengan penjajah konvensional.
Dr Ali Mohd Garisyah dan Mohd Syarif Azzibaq, dalam bukunya Asalibu Ghazwil Fikri lil `alamil Islami (Metode-metode Perang Pemikiran Terhadap Islam) mengatakan, salah satu tahapan penjajah pemikiran tersebut diantaranya adalah membangun pusat kajian-kaijan Ke-Islaman di Barat (Orientalisme). Lalu, menyebarkan missi Kristen dengan mengirim misionaris untuk menyingkirkan khilafah Islam di negeri-negeri muslim.
Menurutnya, Kajian Ketimuran (orientalisme) itu bertujuan mendukung dan membantu usaha perluasan daerah yang dilakukan oleh penjajah. "Kajian-kajian seperti itu secara disengaja untuk memisahkan ummat Islam dari sumber ajaran Islam yang murni. Dan menimbulkan rasa menyerah dan kerdil berhadapan dengan cara hidup barat dan nilai barat." Repotnya, kajian seperti itu telah melahirkan banyak tokoh dan bahkan dikagumi oleh pakar-pakar di dunia Islam sendiri. Di Mesir diantaranya muncul Taha Husin, Kasim Amin (pelopor women liberalism, Husin Fauzi, Ali Abdur Raziq dan banyak lagi. Ini sama persis dengan Indonesia.
Secara sengaja, mereka melakukan pengkajian dan penerbitan buku-buku yang berbahaya bagi ajaran Islam. Beberapa karya kaum oreintalis yang dianggapnya mengandungi banyak kekeliruan dan mengaburkan ajaran Islam adalah Dasiratul Ma'aruf Al Islamiah, Al Munjid Fillughah Wal Ulum Wal Adab, Al Mausu'ah `Arabiah Al `Muyassarah.
Cara-cara yang dipakai oleh gereja dalam menyebarkan missi, dikutip Dr Ali Mohd Garisyah dan Mohd Syarif Azzibaq, termasuk diantaranya adalah membuka sekolah teologi dan biarawati. Gereja juga secara sengaja mengirim beasiswa kepada anak-anak jajahan yang jelas beragama Islam untuk melanjutkan pelajaran mereka di Barat. Dengan begitu anak-anak itu bakal berpola pikir Kristen dan mendukung missi.
Kepala Jabatan Akidah Dan Filsafat, Kuliah Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, Prof. Taha Abd al-Salam Khudhair dan Prof. Dr. Hasan Muharram al-Sayyid al-Huwaini, pernah menelusuri kelicikan penjajahan ideologis kaum Kristen dan Barat itu. Menurutnya, mereka biasa mengirim pelajar Islam ke negara-negara bukan Islam untuk belajar. Kelak setelah lulus, kebanyakan mahasiswa ini tumbuh menjadi orang jahil pada agamanya. "Mereka membangga-banggakan budaya Barat dan menghilangkan ajaran agama," begitu kutipnya.
Dr. Abdurrahman Mas'ud mengatakan, kajian keislaman di Barat (orientalisme) adalah hasil persekongkolan gereja dengan penjajah. "Kajian Islam di Barat pada mulanya sarat dengan kepentingan missionaris dan kolonialisme, sekaligus sebagai ajang pencarian "kelemahan'' Timur dan Islam serta pengukuhan hegemoni Barat atas dunia Timur dan Islam," terang dosen pascasarjana IAIN Wali Songo itu dalam tulisannya di sebuah koran harian.
Ungkapan senada datang dari Edward Said. Dalam bukunya Orientalism ia mengatakan, kajian orientalisme adalah gerakan kolonial dan missionar yang dibungkus keilmuan. Dengan demikian tidaklah terlalu penting kontrol militer untuk menjajah. Sebab, dengan devide et empera, kekuatan terjajah akan lemah dan saling bermusuhan sendiri.
Tidaklah mengherankan, bila saat menghancurkan Aceh, penjajah Belanda mengirimkan seorang bernama Snouck Hourgronje. Snoucklah peletak dasar strategi menghancurkan Islam oleh Belanda. Snouck secara sengaja belajar Islam bahkan sampai mengaku masuk Islam. Ia belajar ke Makkah Al-Mukarramah selama enam tahun dengan memakai nama samaran Abdul Ghaffar. Walau sikap kepura-puraan Snouck akhirnya terbongkar, tapi pola penjajahan dengan cara ghazwul fikri seperti itu terus berkembang hingga kini.
Madzhab Selebritis
Wajah baru penjajahan juga berbentuk budaya. Misalnya, penyebaran film-film, iklan, majalah, video klip, internet termasuk gaya hidup (life style). Jangan heran bila musik-musik Barat seperti; ska, rock, underground, metal, R&B secara pelan-pelan menggeser musik-musik Islam. Melalui budaya, Amerika memaksakan kehendak. Kalau perlu ancaman embargo bila tidak mau menjualan film-film Hollywood ke negeri ketiga, khususnya Islam.
Secara cepat pula industri film yang didominasi Yahudi ini kemudian menjadi trendsetter gaya hidup ummat manusia di seluruh dunia. Secara cepat pula, gaya hidup Barat dan Hollywood menjadi peradaban baru. Dengan dalih globalisasi, seolah-olah apa yang kita tonton, dan yang kita makan dan apa yang kita pakai atau dikenal dengan semboyan 3 F (food, fashion, and fun), haruslah memakai standar Barat dan Hollywood.
Dalam bukunya Jihad vs McWorld, Benjamin R. Barber mengatakan, apa yang terjadi di dunia hari ini adalah pem-Barat-an budaya (westernisasi). MTV, McDonald, celana jeans, musik ska, dan R & B dan film-film Hollywood kini dinikmati oleh warga dunia ketiga. Budaya Barat tidak lagi milik segolongan orang Amerika, tapi sudah milik dunia. Termasuk negeri-negeri Islam. Apa yang menjangkiti dunia Islam hari ini adalah berkembangnya mazhab selebritis. Indikasinya adalah eksploitasi aurat dalam media massa termasuk dalam TV kita. Hampir semua media yang membanjir dewasa ini mengeksploitasi derajat rendah kaum hawa. Film-film seperti Beverly Hills, Dawson Creek, dan Melrose Place seolah-olah tontonan maha penting bagi semua orang dibading rubrik ilmu pengetahuan. Info Selebritis, atau gosip artis, seolah begitu berharga dibanding berita penting lainnya dalam kehidupan. Semua itu, bisa langsung masuk ke kamar kita secara bebas.
Terhadap mereka yang menerima gaya hidup Barat, mereka memberi julukan Islam yang moderat, akomodatif, modernis, toleran, dan demokrat. Yang menolaknya disebut Islam radikal, fundamentalis atau Islam literal.
Akibatnya begitu dahsyat. Dekadensi moral melanda generasi muda. Seks bebas, dan narkoba sudah menjadi sesuatu yang biasa di mata para remaja. Entah bagaimana nasib ummat ini ke depan bila tunas-tunas mudanya terus seperti itu.•
(Hidayatullah 14 Mei 2002)
Read More..
"Mengapa Islam kerap menghadapi banyak cobaan dan serangan dari musuh yang tiada henti-hentinya? Tapi mengapa pula Islam selalu terjaga dari segala cobaan dibanding agama lain yang banyak berakhir dengan menyedihkan?"
Mungkin jawaban kita bisa beragam. Ulama besar Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, menyimpulkan dua hal penting; Pertama, Islam memiliki kekuatan yang dinamis dan serasi dengan situasi zaman sehingga mampu memberikan alternatif terhadap segala persoalan. Kedua, karena Allah swt telah menjamin dan akan menjaga Islam dengan cara melahirkan kader dakwah yang tangguh. Karenanya, seberat apapun serangan yang ditujukan kepada Islam, ummat ini tidak akan pernah mengalami kekosongan mujadid (pejuang agama).
Benar, sejak kehadirannya 1400 tahun lalu, agama ini telah mengalami serangkaian cobaan berat. Sejak awal, Islam selalu menghadapi serangan-serangan dari segala penjuru di mana agama lain tidak pernah menghadapinya. Menurut istilah Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, andaikata bukan Islam, belum tentu agama lain sanggup menghadapinya. Serangan dengan bentuk kekerasan fisik, kudeta, revolusi, sampai dengan bentuk upaya pencampuran ideologi oleh para konspirator untuk merusak Islam telah banyak dicobakan. Bahkan terus berlangsung hingga hari ini.
Tahun 1917, dengan sangat tidak elegan kaum milisi Kristen bersekongkol dengan negara Barat dan Eropa mengeroyok Islam secara beramai-ramai untuk merebut kota Baitul Maqdis. Persekongkolan itu merupakan usaha yang kesekian kali, setelah selama kurang lebih 90 tahun selalu dipatahkan tentara Islam. Tidaklah heran, saat Baitul Maqdis jatuh atas konspirasi jahat, dengan bangganya Jenderal Gouron, seorang pemimpin panglima pasukan Perancis berteriak sambil menginjak-injak pusara pahlawan Islam dalam perang Salib, Salahuddin Al-Ayyubi. "Kami telah kembali, wahai Saladin", ucapnya. "Dan sejak saat ini, Perang Salib (crusade) sudah selesai," tambah Lord Allenby, komandan gabungan milisi pasukan sekutu Inggris, Perancis, Italia, Rumania dan Amerika. Itulah kekalahan Islam di Yerusalem atas konspirasi jahat kaum Kristen, bangsa Barat dan Eropa. Semenjak itu, Palestina dan Baitul Maqdis selalu menjadi obyek keserakahan sebagian negara Barat, Eropa dan Yahudi.
Pernyataan Lord Allenby yang banyak menjadi headline koran-koran Inggris ketika itu memang telah menandai berakhirnya istilah Perang Salib (crusade).
Tapi dalam kenyataannya, semangat Perang Salib terus menandai Kristen, bangsa Barat dan Eropa untuk melakukan penjajahan atas negeri-negeri lain di dunia ketiga. Utamanya negeri-negeri yang jelas mayoritas penduduknya Muslim. Seperti yang telah banyak ditorehkan dalam tinta sejarah, bagaimana missi Kristen masuk ke Nusantara pada abad 15-16 bersamaan dengan misi penjajah Eropa (Portugis) ke dunia Timur. Dengan jelas, missi penjajah itu selain melakukan ekspansi wilayah juga mengembangkan agama Kristen. Semboyannya yang terkenal yaitu "Tiga-G": gold, glory, gospel (emas, kejayaan, missi Kristen).
Sejarawan Dr Aqib Suminto dalam bukunya, "Politik Islam Hindia Belanda" menulis bahwa agama Kristen mulai diperkenalkan oleh para pelaut Portugis yang datang ke dunia Timur pada abad ke-16, sambil membawa semangat Perang Timur. Ekpansi itu dimulai oleh perserikatan dagang Belanda yang diberi nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk mencari rempah-rempah. Sambil berdagang, VOC tidak melupakan misi penyebaran agama Kristen dalam setiap ekspedisinya. Setelah berhasil mengatasi Katolik, pemerintah Belanda memusatkan perhatian menghadapi kelompok pribumi yang beragama Islam. Sebab, menurut Aqib Suminto, bagi Belanda penghalang utama kekuasaan kolonialnya adalah agama Islam dan pemeluknya. "Pidato tahunan raja bulan September 1901 —yang menggambarkan jiwa Kristen— menyatakan mempunyai kewajiban etis dan tanggungjawab moral kepada rakyat Hindia Belanda, yakni memberikan bantuan lebih banyak kepada penyebaran agama Kristen," tulis Aqib.
Adalah ucapan yang menarik dari D'albuquerqe saat menduduki Malaka, "Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor (sebutan untuk orang Muslim) dari negara ini dan memadamkan api sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini". Ucapan ini mirip dengan pidato petinggi militer Spanyol, Figueroa di depan pasukannya saat menjajah wilayah Muslim Mindanao, "Kita berdiri di atas tanah bangsa Spanyol yang baru. Menaklukkan hutan yang gelap ini dan menguasai tanah kafir-Muslim adalah misi kita. Mereka menyerah sebagai budak dan murtad atau jatuh di bawah pedang bangsa Spanyol. Majulah untuk misi kita demi Raja dan Negara." Missi Kristen, meski tidak menjadi prioritas utama —seperti halnya masa lalu— sering berjalan seiring dengan semangat penjajahan (kolonialisme).
Gereja, Barat, dan bangsa Eropa tahu betul, hanya dengan mengganti agama Islam dengan agama lain, missi penjajahan bisa terlaksana di negeri-negeri Islam. Sebab Islam tak ubahnya sebuah keyakinan yang hanya melahirkan orang-orang kuat dengan kepatuhan agama.
Tidaklah berlebihan bila mantan Perdana Menteri Inggris, yang sangat berkuasa di tahun 1882, Gladstone. Sambil membawa kopian al-Qur'an, penganut gereja Anglikan ini bicara di depan ratusan anggota Parlemen Inggris kala itu. "Percuma memerangi ummat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam masih bertengger al-Qur'an. Tugas kita adalah mencabut al-Qur'an di hati mereka. Dan kita akan menang menguasai mereka," ucapnya.
Ucapan Gladstone itu kemudian menjadi rekomendasi penting Kerajaan Inggris tentang bagaimana kiat menundukkan negeri-negeri Islam di wilayah jajahannya, termasuk terhadap Mesir.
Menuju Perang Peradaban
Interaksinya selama berabad-abad dengan peradaban Islam, penjajah tahu betul betapa Islam adalah agama yang memiliki peradaban modern. Ideologinya tidak hanya mampu mengungguli kekuatan militer Barat, namun juga mengungguli peradaban dan intelektualitas mereka sekaligus. Karena itu, ancaman peradaban Islam seperti ucapan jujur Prof Dr Huntington dalam The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996) adalah suatu yang rasional. Atas pengalaman berharga itu, penjajah kemudian mengganti strateginya. Strategi baru pasca Perang Salib itu adalah melalui jalan perang peradaban dan pemikiran (ghazwul fikri). Penjajahan berwajah baru ini tak kalah liciknya dengan penjajah konvensional.
Dr Ali Mohd Garisyah dan Mohd Syarif Azzibaq, dalam bukunya Asalibu Ghazwil Fikri lil `alamil Islami (Metode-metode Perang Pemikiran Terhadap Islam) mengatakan, salah satu tahapan penjajah pemikiran tersebut diantaranya adalah membangun pusat kajian-kaijan Ke-Islaman di Barat (Orientalisme). Lalu, menyebarkan missi Kristen dengan mengirim misionaris untuk menyingkirkan khilafah Islam di negeri-negeri muslim.
Menurutnya, Kajian Ketimuran (orientalisme) itu bertujuan mendukung dan membantu usaha perluasan daerah yang dilakukan oleh penjajah. "Kajian-kajian seperti itu secara disengaja untuk memisahkan ummat Islam dari sumber ajaran Islam yang murni. Dan menimbulkan rasa menyerah dan kerdil berhadapan dengan cara hidup barat dan nilai barat." Repotnya, kajian seperti itu telah melahirkan banyak tokoh dan bahkan dikagumi oleh pakar-pakar di dunia Islam sendiri. Di Mesir diantaranya muncul Taha Husin, Kasim Amin (pelopor women liberalism, Husin Fauzi, Ali Abdur Raziq dan banyak lagi. Ini sama persis dengan Indonesia.
Secara sengaja, mereka melakukan pengkajian dan penerbitan buku-buku yang berbahaya bagi ajaran Islam. Beberapa karya kaum oreintalis yang dianggapnya mengandungi banyak kekeliruan dan mengaburkan ajaran Islam adalah Dasiratul Ma'aruf Al Islamiah, Al Munjid Fillughah Wal Ulum Wal Adab, Al Mausu'ah `Arabiah Al `Muyassarah.
Cara-cara yang dipakai oleh gereja dalam menyebarkan missi, dikutip Dr Ali Mohd Garisyah dan Mohd Syarif Azzibaq, termasuk diantaranya adalah membuka sekolah teologi dan biarawati. Gereja juga secara sengaja mengirim beasiswa kepada anak-anak jajahan yang jelas beragama Islam untuk melanjutkan pelajaran mereka di Barat. Dengan begitu anak-anak itu bakal berpola pikir Kristen dan mendukung missi.
Kepala Jabatan Akidah Dan Filsafat, Kuliah Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, Prof. Taha Abd al-Salam Khudhair dan Prof. Dr. Hasan Muharram al-Sayyid al-Huwaini, pernah menelusuri kelicikan penjajahan ideologis kaum Kristen dan Barat itu. Menurutnya, mereka biasa mengirim pelajar Islam ke negara-negara bukan Islam untuk belajar. Kelak setelah lulus, kebanyakan mahasiswa ini tumbuh menjadi orang jahil pada agamanya. "Mereka membangga-banggakan budaya Barat dan menghilangkan ajaran agama," begitu kutipnya.
Dr. Abdurrahman Mas'ud mengatakan, kajian keislaman di Barat (orientalisme) adalah hasil persekongkolan gereja dengan penjajah. "Kajian Islam di Barat pada mulanya sarat dengan kepentingan missionaris dan kolonialisme, sekaligus sebagai ajang pencarian "kelemahan'' Timur dan Islam serta pengukuhan hegemoni Barat atas dunia Timur dan Islam," terang dosen pascasarjana IAIN Wali Songo itu dalam tulisannya di sebuah koran harian.
Ungkapan senada datang dari Edward Said. Dalam bukunya Orientalism ia mengatakan, kajian orientalisme adalah gerakan kolonial dan missionar yang dibungkus keilmuan. Dengan demikian tidaklah terlalu penting kontrol militer untuk menjajah. Sebab, dengan devide et empera, kekuatan terjajah akan lemah dan saling bermusuhan sendiri.
Tidaklah mengherankan, bila saat menghancurkan Aceh, penjajah Belanda mengirimkan seorang bernama Snouck Hourgronje. Snoucklah peletak dasar strategi menghancurkan Islam oleh Belanda. Snouck secara sengaja belajar Islam bahkan sampai mengaku masuk Islam. Ia belajar ke Makkah Al-Mukarramah selama enam tahun dengan memakai nama samaran Abdul Ghaffar. Walau sikap kepura-puraan Snouck akhirnya terbongkar, tapi pola penjajahan dengan cara ghazwul fikri seperti itu terus berkembang hingga kini.
Madzhab Selebritis
Wajah baru penjajahan juga berbentuk budaya. Misalnya, penyebaran film-film, iklan, majalah, video klip, internet termasuk gaya hidup (life style). Jangan heran bila musik-musik Barat seperti; ska, rock, underground, metal, R&B secara pelan-pelan menggeser musik-musik Islam. Melalui budaya, Amerika memaksakan kehendak. Kalau perlu ancaman embargo bila tidak mau menjualan film-film Hollywood ke negeri ketiga, khususnya Islam.
Secara cepat pula industri film yang didominasi Yahudi ini kemudian menjadi trendsetter gaya hidup ummat manusia di seluruh dunia. Secara cepat pula, gaya hidup Barat dan Hollywood menjadi peradaban baru. Dengan dalih globalisasi, seolah-olah apa yang kita tonton, dan yang kita makan dan apa yang kita pakai atau dikenal dengan semboyan 3 F (food, fashion, and fun), haruslah memakai standar Barat dan Hollywood.
Dalam bukunya Jihad vs McWorld, Benjamin R. Barber mengatakan, apa yang terjadi di dunia hari ini adalah pem-Barat-an budaya (westernisasi). MTV, McDonald, celana jeans, musik ska, dan R & B dan film-film Hollywood kini dinikmati oleh warga dunia ketiga. Budaya Barat tidak lagi milik segolongan orang Amerika, tapi sudah milik dunia. Termasuk negeri-negeri Islam. Apa yang menjangkiti dunia Islam hari ini adalah berkembangnya mazhab selebritis. Indikasinya adalah eksploitasi aurat dalam media massa termasuk dalam TV kita. Hampir semua media yang membanjir dewasa ini mengeksploitasi derajat rendah kaum hawa. Film-film seperti Beverly Hills, Dawson Creek, dan Melrose Place seolah-olah tontonan maha penting bagi semua orang dibading rubrik ilmu pengetahuan. Info Selebritis, atau gosip artis, seolah begitu berharga dibanding berita penting lainnya dalam kehidupan. Semua itu, bisa langsung masuk ke kamar kita secara bebas.
Terhadap mereka yang menerima gaya hidup Barat, mereka memberi julukan Islam yang moderat, akomodatif, modernis, toleran, dan demokrat. Yang menolaknya disebut Islam radikal, fundamentalis atau Islam literal.
Akibatnya begitu dahsyat. Dekadensi moral melanda generasi muda. Seks bebas, dan narkoba sudah menjadi sesuatu yang biasa di mata para remaja. Entah bagaimana nasib ummat ini ke depan bila tunas-tunas mudanya terus seperti itu.•
(Hidayatullah 14 Mei 2002)
Read More..
SEJARAH PEMBANTAIAN PALESTINA OLEH KRISTEN DAN YAHUDI
14 Mei tahun 1948, David Ben Gurion, salah seorang tokoh zionis internasional, secara resmi memproklamasikan berdirinya negara Zionis yang
kawasannya meliputi setengah dari kawasan Palestina. Proses pendirian negara ilegal ini dimulai sejak tahun 1917, setelah PD I berakhir, ketika Inggris menduduki Palestina. Pada masa itu, penduduk asli Palestina yang terdiri dari kaum muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan dengan damai. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-Bangsa menyetujui didirikannya negara khusus untuk kaum Yahudi di atas tanah yang diduduki Inggris tersebut.
Sejak saat itu, organisasi-organisasi Zionis melakukan pengiriman kaum Yahudi dari berbagai penjuru dunia ke Palestina. Organisasi-organisasi teror Zionis seperti Irgun dan Hagana, juga melakukan berbagai teror dan pembunuhan massal untuk menakut-nakuti bangsa Palestina agar pergi meninggalkan tanah air mereka. Pada bulan November 1947, PBB mengeluarkan resolusi tentang pembentukan dua pemerintahan di Palestina, yaitu Arab dan Yahudi, dan Baitul Maqdis (Yerusalem) dijadikan zona internasional. Sementara itu, Inggris mengumumkan akan keluar dari Palestina pendudukan pada tanggal 15 Mei 1948, namun beberapa jam sebelumnya, Ben Gurion
memproklamasikan berdirinya negara Israel di tanah bekas pendudukan Inggris Nitu.
Negara-negara Kristen terutama Inggris dan Amerika mendukung penuh dengan segala cara dan bala bantuan demi berdirinya negara Israel, dengan wilayah berasal dari rampasan tanah Palestina.
Selama berpuluh-puluh tahun kemudian sampai detik ini bangsa Yahudi (Israel)terus membunuhi ribuan orang Palestina demi memuluskan dan meluaskan jajahannya di negara Arab tersebut. Ironisnya bangsa Palestina yang berusaha merebut tanahnya kembali dicap sebagai teroris oleh orang-orang Kristen. Ini mirip dengan yang terjadi di Indonesia sebelum meraih kemerdekaan dari Belanda dulu.
Belanda merebut, menguasai dan menjajah wilayah Indonesia, kemudian rakyat Indonesia berusaha merebut tanahnya kembali dari tangan "si rampok" (Belanda), namun mereka malah dicap "ekstrimis" oleh Belanda. Sama persis dengan di Palestina. Israel merebut, menguasai dan menjajah wilayah Palestina, kemudian rakyat Palestina berusaha merebut tanahnya kembali dari tangan "si rampok" (Israel), namun mereka malah dicap "teroris" oleh Israel dan orang-orang Kristen.
Padahal jumlah penduduk sipil Palestina yang telah dibantai oleh Zionis Israel jauh lebih banyak daripada sebaliknya, penduduk Israel yang terbunuh akibat aksi-aksi pejuang Palestina. Selama kurun waktu 4 tahun terakhir (2000-2004) 4.000 warga Palestina telah tewas dibunuh Israel, jumlah ini MASIH LEBIH BANYAK daripada jumlah warga Israel yang telah dibunuh oleh Palestina dalam 56 tahun terakhir!, yaitu sejak Israel menduduki tanah Palestina tahun 1948.
Selain daripada itu, sejak kurun waktu 2000-2004 ini 11.000 warga Palestina juga menderita luka-luka. Dan 11.000 rakyat Palestina ditahan Israel.250.000 warga Palestina mengalami luka-luka dengan 25.000 diantaranya mengalami cacat permanen akibat siksaan yang mereka terima di penjara Israel. 40.000 rumah penduduk Palestina juga telah diratakan dengan tanah oleh pihak zionis, dengan dukungan Kristen. Jadi tangan umat Kristen juga berlumuran darah warga Palestina.
Berdasarkan laporan lembaga pemantau HAM yang beroperasi di daerah pendudukan, tentara Israel telah membunuh ratusan bocah Palestina sejak meletusnya Intifada tiga setengah tahun yang lalu.
Menurut juru bicara Human Rights Monitoring Group (HRMG) yang berbasis di Jerusalem, tentara Israel dan milisi pemukim Yahudi telah membunuh 263 bocah Palestina berusia 0-14 tahun dan lebih kurang 236 orang berusia 15-18 tahun sejak Intifada meledak.
Jumlah total muslim Palestina yang dibunuh Israel sejak meletusnya Intifada diperkirakan mencapai 2670 orang. Sedangkan yang luka-luka dan cacat dipercaya ada ribuan orang.
Sedangkan di pihak Israel yang terbunuh pada periode yang sama sekitar 838 orang. Di dalamnya termasuk tentara, pemukim, dan penduduk sipil lainnya.
Saya sungguh sangat-sangat-sangat prihatin sekali karena masih ada orang-orang, khususnya rekan-rekan Kristen sekalian yang telah termakan propaganda Yahudi sehingga terus menerus mendukung penjajahan dan kebiadaban mereka di Palestina. Adalah fakta dan tak bisa dibantah, bahwa Zionis membunuhi penduduk sipil Palestina JAUH-JAUH-JAUH LEBIH BANYAK daripada sebaliknya.
Lalu? Mengapa di CNN dan media-media barat lainnya -thus dilakukan juga oleh banyak rekan Kristen di Indonesia- hanya membesar-besarkan setiap perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Palestina sementara RELATIF SANGAT KURANG mengecam Israel? Justru perjuangan Palestina yang SISI BURUKNYA jauh lebih kecil dari yang dilakukan oleh Zionis Israel DIANGGAP TERORIS, sedangkan Zionis Israel sendiri yang sejak jauh sebelumnya sampai detik ini JAUH LEBIH BIADAB, JAUH LEBIH BANYAK MEMBANTAI dan JAUH LEBIH TERORIS dari bangsa Palestina justru didukung total tanpa pamrih.
Gejala apa ini? Ini namanya "standar ganda" model apa? Sebelum kalian semakin "gagal sebagai manusia", saya menyarankan, cobalah.. cobalah...cobalah berpikir obyektif barang sejenak. Buang segala tendensi dan kebencian anda terhadap Islam, dan mulailah meneliti, menelaah semua data dan fakta dan setelah itu memahami realitas yang terjadi di Palestina. Kalau kalian belum kehilangan hati kalian, kalau kalian masih mampu menggunakan nurani kalian, maka kalian pasti akan mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina dan mengutuk kebiadaban-kebiadaban Zionis Israel selama
ini.
Bahkan, kalangan yang kepepet karena tidak bisa menyangkal betapa jahatnya zionis Israel, namun karena dalam hati orang tersebut ada kebencian terhadap Islam, ada yang mengatakan bahwa Zionis Israel dan Palestina "sama-sama jahat". Mereka coba membuat excuse supaya kejahatan Israel bisa dieliminir sedangkan kejahatan Palestina dibesar-besarkan, supaya sama dengan yang dilakukan Israel. Saya katakan: tidak patut menyamakan kejahatan Israel dengan perjuangan bangsa Palestina.
Karena zionis Israel jelas jauh lebih jahat daripada Palestina. Mereka sudah melakukan berbagai kebiadaban sejak dari sebelum berdirinya negara illegal mereka terhadap bangsa Palestina. Secara kualitas dan kuantitas kejahatan yang dilakukan oleh rakyat Palestina yang berusaha merebut tanahnya kembali itu TIDAK ADA APA-APANYA kalau mau dibandingkan dengan kejahatan yang dilakukan oleh Zionis Israel.
Ketika mereka orang-orang Yahudi itu kembali dari diaspora -di Eropa mereka ditindas, dibantai dan diusir oleh orang-orang Kristen- dan datang ke Palestina SEBAGAI TAMU, mereka telah DITERIMA DENGAN BAIK oleh rakyat Palestina. Namun kemudian apa yang terjadi? Mereka justru membunuhi bangsa Palestina, membumi hanguskan perumahan mereka, merebut tanah mereka dan mengusir keluar bangsa Palestina dari negerinya sendiri. Sungguh ironis,mereka mengusir bangsa Palestina yang telah menerima bangsa Yahudi dengan baik sebelumnya dan membiarkan mereka hidup di tanah Palestina.
Berikut contoh 2 pembantaian yang dilakukan oleh zionis Israel terhadap Palestina.
- 14 Februari tahun 1938, kelompok teroris Zionis bernama Palmach, menyerang desa Sa'sa' di kawasan Palestina pendudukan dan membantai massal penduduk desa itu. Aksi teror yang berlangsung hingga keesokan harinya itu,menghancurkan 20 rumah warga dan menewaskan 60 orang, yang sebagian besar di antaranya perempuan dan anak-anak. Kelompok Palmach adalah divisi pembunuh rahasia dari kelompok militan Zionis,Haganah.
Ada tiga kelompok besar teroris Zionis, yaitu Haganah, Irgun, dan Stern Gang.
Kelompok-kelompok ini dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Yitzhak Shamir, Menachem Begin and David Ben-Gurion, orang-orang yang kemudian malah dianggap pahlawan dan menjadi pejabat tinggi, seperti Perdana Menteri.Kelompok-kelompok militan ini melancarkan aksi-aksi teroris terhadap rakyat sipil Palestina dengan harapan bisa menakuti-nakui mereka agar pergi meninggalkan rumah mereka sehingga bisa diambil alih oleh orang-orang Zionis. Kelompok Palmach, yang merupakan divisi pembunuh rahasia kelompok Haganah pimpinan Yitzhak Rabin, selain membunuh massal warga desa Sa'sa',juga tercatat pernah membunuh massal desa di Balad Al-Sheikh dan Lydda.
- 13 Maret 1948, kelompok teroris Zionis, "Hagana", menyerang desa Husainiyah yang terletak di Jalilah utara. Dalam serangan ini, kelompok Hagana menghancurkan rumah-rumah milik warga sipil Palestina dan 60 warga desa itu dibunuh massal. Pada hari itu pula, tentara Zionis meledakkan rumah-rumah di Baitul Maqdis sehingga membunuh dan melukai sejumlah orang Palestina. Pada saat itu, kaum Zionis tengah melakukan persiapan untuk memproklamasikan berdirinya pemerintahan illegal Israel. Melalui tindakan-tindakan teror ini, mereka berharap bisa menakut-nakuti rakyat
Palestina agar meninggalkan tanah air mereka.
Lebih lengkap mengenai beberapa pembantaian dan kebiadaban-kebiadaban zionis Israel lainnya, silahkan klik link posting Forza Islam berikut ini:
50 KEBIADABAN ZIONIS ISRAEL
Namun lucunya, si tuan rumah (;Palestina) yang ingin masuk ke rumahnya kembali dianggap sebagai maling, sedangkan si perampok (;Israel) yang telah menduduki rumah orang tersebut justru dianggap telah syah dan legal menguasai rumah itu, bahkan mereka membunuhi orang-orang pemilik rumah tersebut yang berusaha merebut rumahnya kembali. "Air susu dibalas dengan air tuba" yang mereka praktekkan terhadap bangsa Palestina itu terkesan dibiarkan bahkan didukung habis-habisan oleh negara-negara Kristen.
Kalau tidak dibantu negara-negara Kristen seperti AS dan Inggris, sudah dari dulu-dulu Israel kalah perang melawan Arab. Contohnya pada perang Arab-Israel 1956, pasukan dari negara-negara Kristen tersebut turun tangan bahu membahu dengan Yahudi Israel untuk memerangi Arab dalam perebutan Terusan Suez. Juga dalam perang tahun 1973, Israel sudah terdesak dan hampir kalah andai saja bala bantuan dari AS tidak datang membantu Israel sehingga membuat keadaan menjadi berbalik menguntungkan Israel.
Mungkin orang-orang Kristen merasa bersalah dan berdosa, karena mereka TELAH
MEMBUNUH PULUHAN JUTA orang Yahudi sejak berdirinya agama Kristen, sehingga kini berbalik mendukung Yahudi habis-habisan, itung-itung biar impas alias menebus dosa mereka. Namun mereka Kristen-Kristen itu yang biadab, umat Islam yang kena getahnya, tanahnya diambil untuk diberikan kepada Yahudi.Harusnya kalau mereka orang-orang Kristen itu ingin menebus dosa KEJAHATAN MEREKA kepada bangsa Yahudi YANG TELAH MEREKA MAMPUSKAN PULUHAN JUTA DIANTARANYA SELAMA 1500 TAHUN itu, berikan saja daerah-daerah Kristen sendiri seperti New York atau Nebraska, Sheffield atau Coventry untuk
ditinggali orang Yahudi dan dijadikan negara mereka, jangan main ambil saja tanah umat Islam.
20 KOMENTAR TENTANG KEBIADABAN ISRAEL TERHADAP PALESTINA
Mengapa kini Kristen habis-habisan mendukung Yahudi? Selain karena memang orang Kristen itu MEMPERTUHANKAN orang Yahudi, maka itu mereka dengan senang hati selalu memuja dan menjilati pantat setiap orang Yahudi habis-habisan:
[Ibrani 7:14] Sebab telah diketahui oleh semua orang, bahwa TUHAN KITA
BERASAL DARI SUKU YEHUDA dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam.
Juga karena mereka merasa berdosa dan sangat bersalah, karena selama ini orang-orang Kristen telah memampuskan puluhan juta orang Yahudi. Berikut contoh kebiadaban-kebiadaban Kristen yang telah menelan korban sangat banyak umat Yahudi.
20 CONTOH KEBIADABAN KRISTEN MAMPUSKAN PULUHAN JUTA YAHUDI
1. Tahun 388. Kuil pertama Yahudi di dekat sungai Euprath, Irak dihancurkan atas perintah Bishop Kallinikon.
2. Abad ke 4. Dalam pertengahan abad ke 4 kuil pertama Yahudi lainnya juga dihancurkan atas perintah Bishop Innocentious dari Dertona di Utara Italia.
3. Abad ke 4 dan 5. Banyak kuil-kuil Yahudi lainnya juga dibakar oleh orang Kristen. Jumlah orang Yahudi yang terbunuh tidak diketahui.
4. Tahun 589 di Toledo, Spanyol. Para pemuka agama dan penguasa Kristen melakukan tindakan pembaptisan paksa terhadap semua manusia. Siapa yang menolak dibaptis, maka akan disiksa atau dibunuh. Sebagai contoh, di Spanyol, berdasarkan hasil The Third Council of Toledo (589), maka Katolik dijadikan sebagai agama negara, dan ditetapkan sejumlah keputusan terhadap kaum Yahudi:
(1) Larangan perkawinan antara pemeluk Yahudi dengan pemeluk Kristen, (2)Keturunan dari pasangan itu harus dibaptis dengan paksa,(3) Budak-budak Kristen tidak boleh dimiliki Yahudi,(4) Yahudi harus dikeluarkan dari semua kantor publik,(5) Yahudi dilarang membaca Mazmur secara terbuka saat upacara kematian.
Sedikit intermezzo dari Forza Islam. Lewat bukti-bukti yang saya paparkan ini,dengan jelas telah menunjukkan bahwa sebelum Nabi Muhammad menyebarkan agama Islam -bahkan pada banyak kasus sebelum Nabi Muhammad Saw dilahirkan-kekerasan atas nama agama, seperti perusakan rumah ibadah, pembantaian dan pengkristenan secara paksa Kristenisasi) terhadap umat agama lain (baca:Yahudi) memang sudah LUMRAH dilakukan oleh Kristen.
Kebiadaban-kebiadaban atas nama agama ini memang "orisinil" sudah genetiknya kristen. Mereka tidak bisa cuci tangan dan menimpakan kejahatan atas nama Kristen ini ke pundak bangsa Yahudi, karena orang Yahudi tidak pernah memaksa orang agama lain untuk memeluk agamanya. Coba saja baca Taurat,Zabur atau Talmud, bahkan bangsa Yahudi menganggap orang-orang non-Yahudi tidak lebih dari binatang, dan tidak sudi bila agama Yahudinya dipeluk oleh mereka.
TALMUD
Orang-orang Kristen juga tidak bisa mengarang alibi bahwa mereka melakukan pengkristenan secara paksa itu ke pundak umat Islam, karena terbukti orang-orang Kristen sudah melakukan Kristenisasi, serta pembantaian dan perusakan rumah ibadah umat agama lain sejak sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebarkan agama Islam.
5. Dalam periode 612-620, banyak terjadi kasus dimana orang Yahudi dibaptis secara paksa kedalam agama Kristen. Ribuan orang Yahudi terpaksa melarikan diri ke Prancis dan Afrika untuk menghindari pengkristenan paksa tersebut.
6. Pada 621-631, di bawah pemerintahan Swinthila, perlakuan terhadap Yahudi sedikit lebih lunak. Pelarian Yahudi kembali ke tempat tinggalnya semula dan mereka yang telah dibaptis secara paksa kembali lagi ke agama Yahudi.Tetapi, Swinthila ditumbangkan oleh Sisinad (631-636), yang melanjutkan praktik pembaptisan paksa kembali kepada orang Yahudi.
7. Euric (680-687) membuat keputusan: seluruh Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan dibawah pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja.Setelah diKristenkan secara paksa, orang-orang Yahudi itu tetap diawasi secara ketat oleh gereja, takut kalau-kalau mereka kembali melakukan ibadah Yahudi.
8. Raja Egica (687-701) membuat keputusan: semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak untuk selamanya, harta benda mereka disita, dan mereka diusir dari rumah-rumah mereka, sehingga akibatnya mereka orang-orang Yahudi itu tersebar ke berbagai propinsi. Upacara keagamaan Yahudi dilarang keras. Lebih dari itu,anak-anak Yahudi, umur 7 tahun keatas diambil paksa dari orang tuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. (Lihat: Max L.Margolis dan Alexander Marx, A History of the Jewish People, hal. 304-306).
9. Tahun 694, Dewan Toledo. Misi Kristen terus berjalan, berangkat dari doktrin, bahwa "di luar Gereja tidak ada keselamatan" (Extra ecclesiam nulla salus), maka orang Yahudi dijadikan budak, harta mereka disita dan anak-anak mereka dibaptis secara paksa.
10. Tahun 1010. Bishop Limoges (Prancis) pada tahun 1010 memaksa orang Yahudi untuk masuk Kristen. Kalau tidak mau mereka dibunuh atau diusir.
Sekali lagi, sejarah sudah membuktikan bahwa motto Kristen sejak jaman baheula memang sudah sangat jelas: "Kristen atau bunuh!". Orang-orang Kristen yang pintar dan berakal -di Eropa sana- sudah banyak yang mengakui hal ini. Namun banyak pula umat Kristen, yang goblog-goblog dan tak memiliki kemampuan untuk berempati, yang menutup mata dan menganggap fakta-fakta sejarah ini seolah-olah tidak pernah terjadi. Mereka memang goblog, tega dan tak bosan-bosannya untuk membohongi dirinya sendiri.
11. Tahun 1096. Menjelang Perang Salib pertama, tokoh Kristen Prancis Godfrey Bouillon bersumpah: "the blood of Christ would be avenged by the blood of Jews", yang berarti: "Darah Kristus harus dibalas dengan darah orang-orang Yahudi".
Akhirnya terbukti kemudian bahwa Kristen benar-benar merealisasikan ancamannya untuk menumpahkan darah orang-orang Yahudi. Walaupun sebelumnya sudah ribuan orang Yahudi yang dibantai oleh orang-orang Kristen, ternyata itupun masih sangat kurang untuk memuaskan dahaga haus darah orang-orang Kristen.
Terbukti pada tahun 1096 ini pada Perang Salib pertama, ribuan orang Yahudi dibunuh oleh Salibis Kristen di kota Worm pada 18 Mei 1906, di Mainz pada 27 Mei 1096 sekitar 1100 orang Yahudi juga dibantai. Juga dibunuh orang-orang Yahudi yang berada di kota-kota lain di Jerman dan Prancis seperti: Cologne, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Metz, Regensburg, Dll.
Pada tanggal 15 Juli 1099, ketika Yerusalem ditaklukan oleh Pasukan Salib,sekitar 60.000 orang dibunuh. Dari jumlah tersebut selain umat Islam, juga dibantai orang-orang Yahudi, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak.Ketika itu berlakulah keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.
Kaum kafir Kristen itu telah menyembelih penduduk sipil Islam baik lelaki,perempuan dan anak-anak dengan sangat ganasnya. Mereka juga membantai orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang enggan bergabung dengan kaum Salib. Keganasan kaum Salib Kristen yang sangat luar biasa itu telah dikutuk dan diakui oleh para saksi dan penulis sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan bangsa.
12. Tahun 1147. Perang Salib kedua. Ratusan orang Yahudi dibunuh di Ham,Sully, Carentan dan Rameru di Prancis.
13. Tahun 1290. Raja Inggris, Edward mengusir keluar orang-orang Yahudi dari
wilayahnya secara paksa. Sedangkan pada tahun 1306 giliran Raja Prancis,Philippe menghalau orang-orang Yahudi keluar dari Prancis. Menurut fakta sejarah, Raja Phillippe kemudian membolehkan sebagian dari mereka untuk kembali ke Prancis selepas itu, tetapi keputusan untuk mengusir mereka kembali dilakukan pada 90 tahun kemudian.
14. Tahun 1349. Di lebih 350 kota Jerman semua Yahudi dibunuh, kebanyakan dibakar hidup-hidup. Dalam satu tahun ini saja jumlah orang Yahudi yang dibunuh melebihi jumlah orang Kristen yang dibunuh selama penindasan orang Roma terhadap orang Kristen.
15. Tahun 1370. Di Belgia orang-orang Yahudi diusir keluar secara beramai-ramai untuk meninggalkan negara itu. Beberapa pengusiran terhadap Yahudi lainnya:
- Tahun 1380 di Cekoslovakia, bangsa Yahudi juga dihalau keluar dari sana oleh Kristen.
- Tahun 1394, orang-orang Yahudi kembali diusir keluar dari Prancis.
- Tahun 1420, tidak mau kalah dengan negara-negara Kristen lain yang mengusir Yahudi keluar dari negaranya, Raja Austria, Raja Bright ke-V juga menghalau Yahudi keluar dari Austria tahun 1420.
- Tahun 1444, orang Yahudi diusir keluar di Outricht, Belanda.
- Tahun 1540, Orang-orang Yahudi diusir keluar dari Napoli dan Sardinia (Italia) oleh orang-orang Katolik.
- Tahun 1551. Di Jerman, golongan Yahudi dihambat dari Bavaria pada tahun 1551.
- Tahun 1582. Orang-orang Yahudi yang sebelumnya telah diusir secara beramai-ramai di Hungaria, memberanikan diri untuk kembali pulang kesana.Namun akhirnya mereka dihalau kembali untuk keluar dari sana oleh orang-orang Kristen tahun 1582.
- Tahun 1744. Orang-orang Yahudi yang telah diusir keluar dari Cekoslovakia pada tahun 1380, akhirnya kembali ke negara tersebut tahun 1592. Namun malangnya pada tahun 1744 ini, Queen Maria Theressa telah memerintahkan penghalauan kembali terhadap semua orang Yahudi.
16. November 1478, Mahkamah Inquisi dibentuk. Sejarah mencatat betapa misi Kristen telah memakan begitu banyak korban. Di Spanyol, misalnya, Mahkamah Inquisisi secara resmi dibentuk oleh Paus Sixtus IV pada November 1478, dan baru berakhir pada 1820. Selama masa inkuisisi di Spanyol, total lebih dari 68 juta jiwa manusia yang dibunuh oleh orang-orang Kristen.
Pembentukan Mahkamah Inquisisi ini dipicu oleh laporan bahwa orang-orang Yahudi dan Muslim yang telah dipaksa memeluk Kristen (dikenal sebagai conversos dan marranos) masih tetap mempraktekkan ritualitas agama lama mereka.
Maka pada tahun 1480, dimulai satu penyelidikan dan pengadilan terhadap para Conversos (ex Yahudi) dan Marranos (ex Muslim) hasil pengkristenan paksa ini, di sebuah jalan utama di Kota Barcelona, Spanyol yang dikenal sebagai Ramblas. Di sini, semua korban disiksa.
Kaum Kristen yang berasal dari Yahudi, misalnya, dicap sebagai heretics karena masih mempraktikkan tradisi Yahudi, seperti mengenakan baju linen setiap Hari Sabtu, atau tidak mau memakan babi. Dalam setahun saja, sebanyak 300 orang telah dibakar hidup-hidup.
17. Tahun 1483. Di Spanyol pada abad ke-15, sejarah kelam gereja ditorehkan oleh seorang Paderi Dominikan bernama Tomas de Torquemada. Kondisi kaum Yahudi dan Muslim terus memburuk setelah Tomas de Torquemada diangkat sebagai "inquisitor general" untuk Castil dan Aragon, tahun 1483. Jumlah yang dibakar hidup-hidup semakin banyak.
Tidak puas dengan membantai para "Yahudi tersembunyi" (crypto-Jews), Torquemada kemudian berusaha mengusir seluruh Yahudi dari Spanyol. Upaya ini kemudian berhasil, dengan dikeluarkannya perintah pengusiran Yahudi dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella, yang dikenal dengan General Edict on the Expulsion of the Jews from Aragon and Castile. (Martin Gilbert (ed), Atlas of The Jewish People, hal. 61-64.)
Sejak abad ke-XIV sampai XIV ini, terjadi pembantaian dan pengusiran terhadap bangsa Yahudi. Tomas de Torguemeda (1420-1498), kepala pengadilan inkuisisi Spanyol telah membantai kurang lebih 2.000 orang dengan siksaan dan mengusir sekitar 200.000 orang bangsa Yahudi.
18. Pada 31 Maret 1492, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella menandatangani Perintah Pengusiran (Edict of Expulsion) yang dibuat untuk membersihkan Spanyol dari kaum Yahudi. Orang-orang Yahudi juga diberi pilihan: dibaptis masuk Kristen atau dideportasi. Menurut Armstrong, banyak kaum Yahudi yang sangat mencintai Andalus (nama lama dari kerajaan muslim di Spanyol),sehingga mereka terpaksa masuk Kristen supaya tetap tinggal di Spanyol.
Namun, banyak pula kaum Yahudi yang tidak sudi untuk memeluk agama Kristen,yang mereka tahu pasti menyimpang dari ajaran nabi-nabi mereka selama ribuan tahun. Maka sekitar 80.000 orang Yahudi kemudian menyeberang ke Portugal,dan ada 50.000 orang yang mengungsi ke kerajaan baru Islam Utsmaniyah,dimana mereka disambut dengan baik. Banyak diantara orang-orang Yahudi yang diusir keluar itu tewas dalam perjalanannya karena dirampok secara keji -lagi-lagi- oleh orang-orang Kristen.
Selain bermotif keagamaan, pengusiran kaum Yahudi dan Muslim dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella juga memberikan banyak kekayaan kepada para penguasa Kristen Spanyol. Dengan pengusiran itu, mereka berhasil menguasai seluruh kekayaan Yahudi dan Muslim dan menjual mereka sebagai budak. Bahkan,diantara mereka yang diusir itu, mereka dirampok di tengah jalan dan sering dibedah perutnya untuk mencari emas yang diduga disembunyikan dalam perut kaum yang terusir itu.
Masa kekuasaan Ferdinand -The King of Aragon- dan Isabella -the Queen of Castile- dicatat sebagai puncak persekusi kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol. Keduanya dikenal sebagai "the Catholic Kings", yang dipuji sebagai pemersatu Spanyol. Namun berlumuran darah ribuan umat Islam dan Yahudi yang mereka bantai.
19. 30 Januari 1933. Adolf Hitler, Katolik Radikal pemimpin Partai Nazi di Jerman, menjadi kanselir dan membentuk Pemerintahan ke-Tiga (The Third Reich) yang brutal. Dia mendirikan kamp-kamp konsentrasi didirikan di berbagai tempat untuk menghabiskan kaum Yahudi. Sekitar 6 juta orang Yahudi,dimana 1,8 juta diantaranya adalah anak-anak, dibantai oleh Hitler, seorang pemeluk Kristiani yang taat ini pada periode 1939-1945.
Mengenai perbuatannya untuk menghabisi jutaan kaum Yahudi, Hitler mengakui bahwa sebelumnya telah berdiskusi dengan uskup. Hitler mengatakan bahwa ia hanya meneruskan saja apa yang dilakukan oleh Gereja selama 1500 tahun terhadap orang Yahudi. Hitler berkata: "Mengenai bangsa Yahudi, saya hanya menjalankan kebijakan yang sama yang telah diterapkan oleh Gereja Katolik selama 1500 tahun, dimana sudah ditetapkan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang berbahaya dan harus dipaksa masuk ke dalam ghetto (perkampungan khusus untuk orang Yahudi), karena Gereja mengetahui seperti apa orang Yahudi itu. Saya tidak meletakkan sebuah ras diatas agama, saya betul-betul melihat sesuatu yang berbahaya dari ras ini terhadap Gereja dan negara, dan mungkin saya telah memberikan pelayan agung terhadap kekristenan."
20. Tahun 1990-an. Bangkitnya gerakan Neo-Nazi Jerman. Sama seperti 60 tahun lalu di jaman NAZI-Hitler, mayoritas anggota Neo-Nazi adalah orang-orang Kristen. Mereka banyak melakukan penyerangan, pembunuhan dan pengrusakan terhadap umat Yahudi dan umat minoritas lainnya di Jerman.
Read More..
kawasannya meliputi setengah dari kawasan Palestina. Proses pendirian negara ilegal ini dimulai sejak tahun 1917, setelah PD I berakhir, ketika Inggris menduduki Palestina. Pada masa itu, penduduk asli Palestina yang terdiri dari kaum muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan dengan damai. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-Bangsa menyetujui didirikannya negara khusus untuk kaum Yahudi di atas tanah yang diduduki Inggris tersebut.
Sejak saat itu, organisasi-organisasi Zionis melakukan pengiriman kaum Yahudi dari berbagai penjuru dunia ke Palestina. Organisasi-organisasi teror Zionis seperti Irgun dan Hagana, juga melakukan berbagai teror dan pembunuhan massal untuk menakut-nakuti bangsa Palestina agar pergi meninggalkan tanah air mereka. Pada bulan November 1947, PBB mengeluarkan resolusi tentang pembentukan dua pemerintahan di Palestina, yaitu Arab dan Yahudi, dan Baitul Maqdis (Yerusalem) dijadikan zona internasional. Sementara itu, Inggris mengumumkan akan keluar dari Palestina pendudukan pada tanggal 15 Mei 1948, namun beberapa jam sebelumnya, Ben Gurion
memproklamasikan berdirinya negara Israel di tanah bekas pendudukan Inggris Nitu.
Negara-negara Kristen terutama Inggris dan Amerika mendukung penuh dengan segala cara dan bala bantuan demi berdirinya negara Israel, dengan wilayah berasal dari rampasan tanah Palestina.
Selama berpuluh-puluh tahun kemudian sampai detik ini bangsa Yahudi (Israel)terus membunuhi ribuan orang Palestina demi memuluskan dan meluaskan jajahannya di negara Arab tersebut. Ironisnya bangsa Palestina yang berusaha merebut tanahnya kembali dicap sebagai teroris oleh orang-orang Kristen. Ini mirip dengan yang terjadi di Indonesia sebelum meraih kemerdekaan dari Belanda dulu.
Belanda merebut, menguasai dan menjajah wilayah Indonesia, kemudian rakyat Indonesia berusaha merebut tanahnya kembali dari tangan "si rampok" (Belanda), namun mereka malah dicap "ekstrimis" oleh Belanda. Sama persis dengan di Palestina. Israel merebut, menguasai dan menjajah wilayah Palestina, kemudian rakyat Palestina berusaha merebut tanahnya kembali dari tangan "si rampok" (Israel), namun mereka malah dicap "teroris" oleh Israel dan orang-orang Kristen.
Padahal jumlah penduduk sipil Palestina yang telah dibantai oleh Zionis Israel jauh lebih banyak daripada sebaliknya, penduduk Israel yang terbunuh akibat aksi-aksi pejuang Palestina. Selama kurun waktu 4 tahun terakhir (2000-2004) 4.000 warga Palestina telah tewas dibunuh Israel, jumlah ini MASIH LEBIH BANYAK daripada jumlah warga Israel yang telah dibunuh oleh Palestina dalam 56 tahun terakhir!, yaitu sejak Israel menduduki tanah Palestina tahun 1948.
Selain daripada itu, sejak kurun waktu 2000-2004 ini 11.000 warga Palestina juga menderita luka-luka. Dan 11.000 rakyat Palestina ditahan Israel.250.000 warga Palestina mengalami luka-luka dengan 25.000 diantaranya mengalami cacat permanen akibat siksaan yang mereka terima di penjara Israel. 40.000 rumah penduduk Palestina juga telah diratakan dengan tanah oleh pihak zionis, dengan dukungan Kristen. Jadi tangan umat Kristen juga berlumuran darah warga Palestina.
Berdasarkan laporan lembaga pemantau HAM yang beroperasi di daerah pendudukan, tentara Israel telah membunuh ratusan bocah Palestina sejak meletusnya Intifada tiga setengah tahun yang lalu.
Menurut juru bicara Human Rights Monitoring Group (HRMG) yang berbasis di Jerusalem, tentara Israel dan milisi pemukim Yahudi telah membunuh 263 bocah Palestina berusia 0-14 tahun dan lebih kurang 236 orang berusia 15-18 tahun sejak Intifada meledak.
Jumlah total muslim Palestina yang dibunuh Israel sejak meletusnya Intifada diperkirakan mencapai 2670 orang. Sedangkan yang luka-luka dan cacat dipercaya ada ribuan orang.
Sedangkan di pihak Israel yang terbunuh pada periode yang sama sekitar 838 orang. Di dalamnya termasuk tentara, pemukim, dan penduduk sipil lainnya.
Saya sungguh sangat-sangat-sangat prihatin sekali karena masih ada orang-orang, khususnya rekan-rekan Kristen sekalian yang telah termakan propaganda Yahudi sehingga terus menerus mendukung penjajahan dan kebiadaban mereka di Palestina. Adalah fakta dan tak bisa dibantah, bahwa Zionis membunuhi penduduk sipil Palestina JAUH-JAUH-JAUH LEBIH BANYAK daripada sebaliknya.
Lalu? Mengapa di CNN dan media-media barat lainnya -thus dilakukan juga oleh banyak rekan Kristen di Indonesia- hanya membesar-besarkan setiap perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Palestina sementara RELATIF SANGAT KURANG mengecam Israel? Justru perjuangan Palestina yang SISI BURUKNYA jauh lebih kecil dari yang dilakukan oleh Zionis Israel DIANGGAP TERORIS, sedangkan Zionis Israel sendiri yang sejak jauh sebelumnya sampai detik ini JAUH LEBIH BIADAB, JAUH LEBIH BANYAK MEMBANTAI dan JAUH LEBIH TERORIS dari bangsa Palestina justru didukung total tanpa pamrih.
Gejala apa ini? Ini namanya "standar ganda" model apa? Sebelum kalian semakin "gagal sebagai manusia", saya menyarankan, cobalah.. cobalah...cobalah berpikir obyektif barang sejenak. Buang segala tendensi dan kebencian anda terhadap Islam, dan mulailah meneliti, menelaah semua data dan fakta dan setelah itu memahami realitas yang terjadi di Palestina. Kalau kalian belum kehilangan hati kalian, kalau kalian masih mampu menggunakan nurani kalian, maka kalian pasti akan mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina dan mengutuk kebiadaban-kebiadaban Zionis Israel selama
ini.
Bahkan, kalangan yang kepepet karena tidak bisa menyangkal betapa jahatnya zionis Israel, namun karena dalam hati orang tersebut ada kebencian terhadap Islam, ada yang mengatakan bahwa Zionis Israel dan Palestina "sama-sama jahat". Mereka coba membuat excuse supaya kejahatan Israel bisa dieliminir sedangkan kejahatan Palestina dibesar-besarkan, supaya sama dengan yang dilakukan Israel. Saya katakan: tidak patut menyamakan kejahatan Israel dengan perjuangan bangsa Palestina.
Karena zionis Israel jelas jauh lebih jahat daripada Palestina. Mereka sudah melakukan berbagai kebiadaban sejak dari sebelum berdirinya negara illegal mereka terhadap bangsa Palestina. Secara kualitas dan kuantitas kejahatan yang dilakukan oleh rakyat Palestina yang berusaha merebut tanahnya kembali itu TIDAK ADA APA-APANYA kalau mau dibandingkan dengan kejahatan yang dilakukan oleh Zionis Israel.
Ketika mereka orang-orang Yahudi itu kembali dari diaspora -di Eropa mereka ditindas, dibantai dan diusir oleh orang-orang Kristen- dan datang ke Palestina SEBAGAI TAMU, mereka telah DITERIMA DENGAN BAIK oleh rakyat Palestina. Namun kemudian apa yang terjadi? Mereka justru membunuhi bangsa Palestina, membumi hanguskan perumahan mereka, merebut tanah mereka dan mengusir keluar bangsa Palestina dari negerinya sendiri. Sungguh ironis,mereka mengusir bangsa Palestina yang telah menerima bangsa Yahudi dengan baik sebelumnya dan membiarkan mereka hidup di tanah Palestina.
Berikut contoh 2 pembantaian yang dilakukan oleh zionis Israel terhadap Palestina.
- 14 Februari tahun 1938, kelompok teroris Zionis bernama Palmach, menyerang desa Sa'sa' di kawasan Palestina pendudukan dan membantai massal penduduk desa itu. Aksi teror yang berlangsung hingga keesokan harinya itu,menghancurkan 20 rumah warga dan menewaskan 60 orang, yang sebagian besar di antaranya perempuan dan anak-anak. Kelompok Palmach adalah divisi pembunuh rahasia dari kelompok militan Zionis,Haganah.
Ada tiga kelompok besar teroris Zionis, yaitu Haganah, Irgun, dan Stern Gang.
Kelompok-kelompok ini dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Yitzhak Shamir, Menachem Begin and David Ben-Gurion, orang-orang yang kemudian malah dianggap pahlawan dan menjadi pejabat tinggi, seperti Perdana Menteri.Kelompok-kelompok militan ini melancarkan aksi-aksi teroris terhadap rakyat sipil Palestina dengan harapan bisa menakuti-nakui mereka agar pergi meninggalkan rumah mereka sehingga bisa diambil alih oleh orang-orang Zionis. Kelompok Palmach, yang merupakan divisi pembunuh rahasia kelompok Haganah pimpinan Yitzhak Rabin, selain membunuh massal warga desa Sa'sa',juga tercatat pernah membunuh massal desa di Balad Al-Sheikh dan Lydda.
- 13 Maret 1948, kelompok teroris Zionis, "Hagana", menyerang desa Husainiyah yang terletak di Jalilah utara. Dalam serangan ini, kelompok Hagana menghancurkan rumah-rumah milik warga sipil Palestina dan 60 warga desa itu dibunuh massal. Pada hari itu pula, tentara Zionis meledakkan rumah-rumah di Baitul Maqdis sehingga membunuh dan melukai sejumlah orang Palestina. Pada saat itu, kaum Zionis tengah melakukan persiapan untuk memproklamasikan berdirinya pemerintahan illegal Israel. Melalui tindakan-tindakan teror ini, mereka berharap bisa menakut-nakuti rakyat
Palestina agar meninggalkan tanah air mereka.
Lebih lengkap mengenai beberapa pembantaian dan kebiadaban-kebiadaban zionis Israel lainnya, silahkan klik link posting Forza Islam berikut ini:
50 KEBIADABAN ZIONIS ISRAEL
Namun lucunya, si tuan rumah (;Palestina) yang ingin masuk ke rumahnya kembali dianggap sebagai maling, sedangkan si perampok (;Israel) yang telah menduduki rumah orang tersebut justru dianggap telah syah dan legal menguasai rumah itu, bahkan mereka membunuhi orang-orang pemilik rumah tersebut yang berusaha merebut rumahnya kembali. "Air susu dibalas dengan air tuba" yang mereka praktekkan terhadap bangsa Palestina itu terkesan dibiarkan bahkan didukung habis-habisan oleh negara-negara Kristen.
Kalau tidak dibantu negara-negara Kristen seperti AS dan Inggris, sudah dari dulu-dulu Israel kalah perang melawan Arab. Contohnya pada perang Arab-Israel 1956, pasukan dari negara-negara Kristen tersebut turun tangan bahu membahu dengan Yahudi Israel untuk memerangi Arab dalam perebutan Terusan Suez. Juga dalam perang tahun 1973, Israel sudah terdesak dan hampir kalah andai saja bala bantuan dari AS tidak datang membantu Israel sehingga membuat keadaan menjadi berbalik menguntungkan Israel.
Mungkin orang-orang Kristen merasa bersalah dan berdosa, karena mereka TELAH
MEMBUNUH PULUHAN JUTA orang Yahudi sejak berdirinya agama Kristen, sehingga kini berbalik mendukung Yahudi habis-habisan, itung-itung biar impas alias menebus dosa mereka. Namun mereka Kristen-Kristen itu yang biadab, umat Islam yang kena getahnya, tanahnya diambil untuk diberikan kepada Yahudi.Harusnya kalau mereka orang-orang Kristen itu ingin menebus dosa KEJAHATAN MEREKA kepada bangsa Yahudi YANG TELAH MEREKA MAMPUSKAN PULUHAN JUTA DIANTARANYA SELAMA 1500 TAHUN itu, berikan saja daerah-daerah Kristen sendiri seperti New York atau Nebraska, Sheffield atau Coventry untuk
ditinggali orang Yahudi dan dijadikan negara mereka, jangan main ambil saja tanah umat Islam.
20 KOMENTAR TENTANG KEBIADABAN ISRAEL TERHADAP PALESTINA
Mengapa kini Kristen habis-habisan mendukung Yahudi? Selain karena memang orang Kristen itu MEMPERTUHANKAN orang Yahudi, maka itu mereka dengan senang hati selalu memuja dan menjilati pantat setiap orang Yahudi habis-habisan:
[Ibrani 7:14] Sebab telah diketahui oleh semua orang, bahwa TUHAN KITA
BERASAL DARI SUKU YEHUDA dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam.
Juga karena mereka merasa berdosa dan sangat bersalah, karena selama ini orang-orang Kristen telah memampuskan puluhan juta orang Yahudi. Berikut contoh kebiadaban-kebiadaban Kristen yang telah menelan korban sangat banyak umat Yahudi.
20 CONTOH KEBIADABAN KRISTEN MAMPUSKAN PULUHAN JUTA YAHUDI
1. Tahun 388. Kuil pertama Yahudi di dekat sungai Euprath, Irak dihancurkan atas perintah Bishop Kallinikon.
2. Abad ke 4. Dalam pertengahan abad ke 4 kuil pertama Yahudi lainnya juga dihancurkan atas perintah Bishop Innocentious dari Dertona di Utara Italia.
3. Abad ke 4 dan 5. Banyak kuil-kuil Yahudi lainnya juga dibakar oleh orang Kristen. Jumlah orang Yahudi yang terbunuh tidak diketahui.
4. Tahun 589 di Toledo, Spanyol. Para pemuka agama dan penguasa Kristen melakukan tindakan pembaptisan paksa terhadap semua manusia. Siapa yang menolak dibaptis, maka akan disiksa atau dibunuh. Sebagai contoh, di Spanyol, berdasarkan hasil The Third Council of Toledo (589), maka Katolik dijadikan sebagai agama negara, dan ditetapkan sejumlah keputusan terhadap kaum Yahudi:
(1) Larangan perkawinan antara pemeluk Yahudi dengan pemeluk Kristen, (2)Keturunan dari pasangan itu harus dibaptis dengan paksa,(3) Budak-budak Kristen tidak boleh dimiliki Yahudi,(4) Yahudi harus dikeluarkan dari semua kantor publik,(5) Yahudi dilarang membaca Mazmur secara terbuka saat upacara kematian.
Sedikit intermezzo dari Forza Islam. Lewat bukti-bukti yang saya paparkan ini,dengan jelas telah menunjukkan bahwa sebelum Nabi Muhammad menyebarkan agama Islam -bahkan pada banyak kasus sebelum Nabi Muhammad Saw dilahirkan-kekerasan atas nama agama, seperti perusakan rumah ibadah, pembantaian dan pengkristenan secara paksa Kristenisasi) terhadap umat agama lain (baca:Yahudi) memang sudah LUMRAH dilakukan oleh Kristen.
Kebiadaban-kebiadaban atas nama agama ini memang "orisinil" sudah genetiknya kristen. Mereka tidak bisa cuci tangan dan menimpakan kejahatan atas nama Kristen ini ke pundak bangsa Yahudi, karena orang Yahudi tidak pernah memaksa orang agama lain untuk memeluk agamanya. Coba saja baca Taurat,Zabur atau Talmud, bahkan bangsa Yahudi menganggap orang-orang non-Yahudi tidak lebih dari binatang, dan tidak sudi bila agama Yahudinya dipeluk oleh mereka.
TALMUD
Orang-orang Kristen juga tidak bisa mengarang alibi bahwa mereka melakukan pengkristenan secara paksa itu ke pundak umat Islam, karena terbukti orang-orang Kristen sudah melakukan Kristenisasi, serta pembantaian dan perusakan rumah ibadah umat agama lain sejak sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebarkan agama Islam.
5. Dalam periode 612-620, banyak terjadi kasus dimana orang Yahudi dibaptis secara paksa kedalam agama Kristen. Ribuan orang Yahudi terpaksa melarikan diri ke Prancis dan Afrika untuk menghindari pengkristenan paksa tersebut.
6. Pada 621-631, di bawah pemerintahan Swinthila, perlakuan terhadap Yahudi sedikit lebih lunak. Pelarian Yahudi kembali ke tempat tinggalnya semula dan mereka yang telah dibaptis secara paksa kembali lagi ke agama Yahudi.Tetapi, Swinthila ditumbangkan oleh Sisinad (631-636), yang melanjutkan praktik pembaptisan paksa kembali kepada orang Yahudi.
7. Euric (680-687) membuat keputusan: seluruh Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan dibawah pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja.Setelah diKristenkan secara paksa, orang-orang Yahudi itu tetap diawasi secara ketat oleh gereja, takut kalau-kalau mereka kembali melakukan ibadah Yahudi.
8. Raja Egica (687-701) membuat keputusan: semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak untuk selamanya, harta benda mereka disita, dan mereka diusir dari rumah-rumah mereka, sehingga akibatnya mereka orang-orang Yahudi itu tersebar ke berbagai propinsi. Upacara keagamaan Yahudi dilarang keras. Lebih dari itu,anak-anak Yahudi, umur 7 tahun keatas diambil paksa dari orang tuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. (Lihat: Max L.Margolis dan Alexander Marx, A History of the Jewish People, hal. 304-306).
9. Tahun 694, Dewan Toledo. Misi Kristen terus berjalan, berangkat dari doktrin, bahwa "di luar Gereja tidak ada keselamatan" (Extra ecclesiam nulla salus), maka orang Yahudi dijadikan budak, harta mereka disita dan anak-anak mereka dibaptis secara paksa.
10. Tahun 1010. Bishop Limoges (Prancis) pada tahun 1010 memaksa orang Yahudi untuk masuk Kristen. Kalau tidak mau mereka dibunuh atau diusir.
Sekali lagi, sejarah sudah membuktikan bahwa motto Kristen sejak jaman baheula memang sudah sangat jelas: "Kristen atau bunuh!". Orang-orang Kristen yang pintar dan berakal -di Eropa sana- sudah banyak yang mengakui hal ini. Namun banyak pula umat Kristen, yang goblog-goblog dan tak memiliki kemampuan untuk berempati, yang menutup mata dan menganggap fakta-fakta sejarah ini seolah-olah tidak pernah terjadi. Mereka memang goblog, tega dan tak bosan-bosannya untuk membohongi dirinya sendiri.
11. Tahun 1096. Menjelang Perang Salib pertama, tokoh Kristen Prancis Godfrey Bouillon bersumpah: "the blood of Christ would be avenged by the blood of Jews", yang berarti: "Darah Kristus harus dibalas dengan darah orang-orang Yahudi".
Akhirnya terbukti kemudian bahwa Kristen benar-benar merealisasikan ancamannya untuk menumpahkan darah orang-orang Yahudi. Walaupun sebelumnya sudah ribuan orang Yahudi yang dibantai oleh orang-orang Kristen, ternyata itupun masih sangat kurang untuk memuaskan dahaga haus darah orang-orang Kristen.
Terbukti pada tahun 1096 ini pada Perang Salib pertama, ribuan orang Yahudi dibunuh oleh Salibis Kristen di kota Worm pada 18 Mei 1906, di Mainz pada 27 Mei 1096 sekitar 1100 orang Yahudi juga dibantai. Juga dibunuh orang-orang Yahudi yang berada di kota-kota lain di Jerman dan Prancis seperti: Cologne, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Metz, Regensburg, Dll.
Pada tanggal 15 Juli 1099, ketika Yerusalem ditaklukan oleh Pasukan Salib,sekitar 60.000 orang dibunuh. Dari jumlah tersebut selain umat Islam, juga dibantai orang-orang Yahudi, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak.Ketika itu berlakulah keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.
Kaum kafir Kristen itu telah menyembelih penduduk sipil Islam baik lelaki,perempuan dan anak-anak dengan sangat ganasnya. Mereka juga membantai orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang enggan bergabung dengan kaum Salib. Keganasan kaum Salib Kristen yang sangat luar biasa itu telah dikutuk dan diakui oleh para saksi dan penulis sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan bangsa.
12. Tahun 1147. Perang Salib kedua. Ratusan orang Yahudi dibunuh di Ham,Sully, Carentan dan Rameru di Prancis.
13. Tahun 1290. Raja Inggris, Edward mengusir keluar orang-orang Yahudi dari
wilayahnya secara paksa. Sedangkan pada tahun 1306 giliran Raja Prancis,Philippe menghalau orang-orang Yahudi keluar dari Prancis. Menurut fakta sejarah, Raja Phillippe kemudian membolehkan sebagian dari mereka untuk kembali ke Prancis selepas itu, tetapi keputusan untuk mengusir mereka kembali dilakukan pada 90 tahun kemudian.
14. Tahun 1349. Di lebih 350 kota Jerman semua Yahudi dibunuh, kebanyakan dibakar hidup-hidup. Dalam satu tahun ini saja jumlah orang Yahudi yang dibunuh melebihi jumlah orang Kristen yang dibunuh selama penindasan orang Roma terhadap orang Kristen.
15. Tahun 1370. Di Belgia orang-orang Yahudi diusir keluar secara beramai-ramai untuk meninggalkan negara itu. Beberapa pengusiran terhadap Yahudi lainnya:
- Tahun 1380 di Cekoslovakia, bangsa Yahudi juga dihalau keluar dari sana oleh Kristen.
- Tahun 1394, orang-orang Yahudi kembali diusir keluar dari Prancis.
- Tahun 1420, tidak mau kalah dengan negara-negara Kristen lain yang mengusir Yahudi keluar dari negaranya, Raja Austria, Raja Bright ke-V juga menghalau Yahudi keluar dari Austria tahun 1420.
- Tahun 1444, orang Yahudi diusir keluar di Outricht, Belanda.
- Tahun 1540, Orang-orang Yahudi diusir keluar dari Napoli dan Sardinia (Italia) oleh orang-orang Katolik.
- Tahun 1551. Di Jerman, golongan Yahudi dihambat dari Bavaria pada tahun 1551.
- Tahun 1582. Orang-orang Yahudi yang sebelumnya telah diusir secara beramai-ramai di Hungaria, memberanikan diri untuk kembali pulang kesana.Namun akhirnya mereka dihalau kembali untuk keluar dari sana oleh orang-orang Kristen tahun 1582.
- Tahun 1744. Orang-orang Yahudi yang telah diusir keluar dari Cekoslovakia pada tahun 1380, akhirnya kembali ke negara tersebut tahun 1592. Namun malangnya pada tahun 1744 ini, Queen Maria Theressa telah memerintahkan penghalauan kembali terhadap semua orang Yahudi.
16. November 1478, Mahkamah Inquisi dibentuk. Sejarah mencatat betapa misi Kristen telah memakan begitu banyak korban. Di Spanyol, misalnya, Mahkamah Inquisisi secara resmi dibentuk oleh Paus Sixtus IV pada November 1478, dan baru berakhir pada 1820. Selama masa inkuisisi di Spanyol, total lebih dari 68 juta jiwa manusia yang dibunuh oleh orang-orang Kristen.
Pembentukan Mahkamah Inquisisi ini dipicu oleh laporan bahwa orang-orang Yahudi dan Muslim yang telah dipaksa memeluk Kristen (dikenal sebagai conversos dan marranos) masih tetap mempraktekkan ritualitas agama lama mereka.
Maka pada tahun 1480, dimulai satu penyelidikan dan pengadilan terhadap para Conversos (ex Yahudi) dan Marranos (ex Muslim) hasil pengkristenan paksa ini, di sebuah jalan utama di Kota Barcelona, Spanyol yang dikenal sebagai Ramblas. Di sini, semua korban disiksa.
Kaum Kristen yang berasal dari Yahudi, misalnya, dicap sebagai heretics karena masih mempraktikkan tradisi Yahudi, seperti mengenakan baju linen setiap Hari Sabtu, atau tidak mau memakan babi. Dalam setahun saja, sebanyak 300 orang telah dibakar hidup-hidup.
17. Tahun 1483. Di Spanyol pada abad ke-15, sejarah kelam gereja ditorehkan oleh seorang Paderi Dominikan bernama Tomas de Torquemada. Kondisi kaum Yahudi dan Muslim terus memburuk setelah Tomas de Torquemada diangkat sebagai "inquisitor general" untuk Castil dan Aragon, tahun 1483. Jumlah yang dibakar hidup-hidup semakin banyak.
Tidak puas dengan membantai para "Yahudi tersembunyi" (crypto-Jews), Torquemada kemudian berusaha mengusir seluruh Yahudi dari Spanyol. Upaya ini kemudian berhasil, dengan dikeluarkannya perintah pengusiran Yahudi dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella, yang dikenal dengan General Edict on the Expulsion of the Jews from Aragon and Castile. (Martin Gilbert (ed), Atlas of The Jewish People, hal. 61-64.)
Sejak abad ke-XIV sampai XIV ini, terjadi pembantaian dan pengusiran terhadap bangsa Yahudi. Tomas de Torguemeda (1420-1498), kepala pengadilan inkuisisi Spanyol telah membantai kurang lebih 2.000 orang dengan siksaan dan mengusir sekitar 200.000 orang bangsa Yahudi.
18. Pada 31 Maret 1492, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella menandatangani Perintah Pengusiran (Edict of Expulsion) yang dibuat untuk membersihkan Spanyol dari kaum Yahudi. Orang-orang Yahudi juga diberi pilihan: dibaptis masuk Kristen atau dideportasi. Menurut Armstrong, banyak kaum Yahudi yang sangat mencintai Andalus (nama lama dari kerajaan muslim di Spanyol),sehingga mereka terpaksa masuk Kristen supaya tetap tinggal di Spanyol.
Namun, banyak pula kaum Yahudi yang tidak sudi untuk memeluk agama Kristen,yang mereka tahu pasti menyimpang dari ajaran nabi-nabi mereka selama ribuan tahun. Maka sekitar 80.000 orang Yahudi kemudian menyeberang ke Portugal,dan ada 50.000 orang yang mengungsi ke kerajaan baru Islam Utsmaniyah,dimana mereka disambut dengan baik. Banyak diantara orang-orang Yahudi yang diusir keluar itu tewas dalam perjalanannya karena dirampok secara keji -lagi-lagi- oleh orang-orang Kristen.
Selain bermotif keagamaan, pengusiran kaum Yahudi dan Muslim dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella juga memberikan banyak kekayaan kepada para penguasa Kristen Spanyol. Dengan pengusiran itu, mereka berhasil menguasai seluruh kekayaan Yahudi dan Muslim dan menjual mereka sebagai budak. Bahkan,diantara mereka yang diusir itu, mereka dirampok di tengah jalan dan sering dibedah perutnya untuk mencari emas yang diduga disembunyikan dalam perut kaum yang terusir itu.
Masa kekuasaan Ferdinand -The King of Aragon- dan Isabella -the Queen of Castile- dicatat sebagai puncak persekusi kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol. Keduanya dikenal sebagai "the Catholic Kings", yang dipuji sebagai pemersatu Spanyol. Namun berlumuran darah ribuan umat Islam dan Yahudi yang mereka bantai.
19. 30 Januari 1933. Adolf Hitler, Katolik Radikal pemimpin Partai Nazi di Jerman, menjadi kanselir dan membentuk Pemerintahan ke-Tiga (The Third Reich) yang brutal. Dia mendirikan kamp-kamp konsentrasi didirikan di berbagai tempat untuk menghabiskan kaum Yahudi. Sekitar 6 juta orang Yahudi,dimana 1,8 juta diantaranya adalah anak-anak, dibantai oleh Hitler, seorang pemeluk Kristiani yang taat ini pada periode 1939-1945.
Mengenai perbuatannya untuk menghabisi jutaan kaum Yahudi, Hitler mengakui bahwa sebelumnya telah berdiskusi dengan uskup. Hitler mengatakan bahwa ia hanya meneruskan saja apa yang dilakukan oleh Gereja selama 1500 tahun terhadap orang Yahudi. Hitler berkata: "Mengenai bangsa Yahudi, saya hanya menjalankan kebijakan yang sama yang telah diterapkan oleh Gereja Katolik selama 1500 tahun, dimana sudah ditetapkan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang berbahaya dan harus dipaksa masuk ke dalam ghetto (perkampungan khusus untuk orang Yahudi), karena Gereja mengetahui seperti apa orang Yahudi itu. Saya tidak meletakkan sebuah ras diatas agama, saya betul-betul melihat sesuatu yang berbahaya dari ras ini terhadap Gereja dan negara, dan mungkin saya telah memberikan pelayan agung terhadap kekristenan."
20. Tahun 1990-an. Bangkitnya gerakan Neo-Nazi Jerman. Sama seperti 60 tahun lalu di jaman NAZI-Hitler, mayoritas anggota Neo-Nazi adalah orang-orang Kristen. Mereka banyak melakukan penyerangan, pembunuhan dan pengrusakan terhadap umat Yahudi dan umat minoritas lainnya di Jerman.
Selasa, Juli 07, 2009
Rabbaniy mengatakan...

Hidup adalah Perjuangan
bukan kenikmatan
tapi
wujud dari tiap pengorbanan
Tak perlu takut untuk kebenaran
yang harus ditegakkan
di antara malam dan siang
di antara timur dan barat
Seharusnya dia dihadirkan
bukan dihilangkan
bahwa keberanian itu
HARUS ada di muka bumi
para hamba yang telah diciptakan
Rabbaniy...nama ini kan selamanya
ada
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)
